Juli Trian Marini, Peraih Emas Cabor Gulat Porprov VI Jatim dalam Keterbatasannya

44
BANGGA: Juli Trian Marini, atlet cabor gulat peraih emas, bersama Ketua KONI Kabupaten Madiun Sentot Seto Wahyono beberapa waktu lalu.

Keterbatasan fisik bukan penghalang dalam dunia olahraga. Atlet cabor gulat Juli Trian Marini misalnya, yang kedua kakinya tidak sempurna sejak lahir. Hingga kini, empat medali emas dikoleksinya. Teranyar disabet dari Porprov VI Jawa Timur.

——————-

ANDI CHORNIAWAN, Madiun

RABU, 10 Juli lalu, menjadi hari tak terlupakan sepanjang hidup Juli Trian Marini. Atlet cabang olahraga (cabor) gulat kontingen Kabupaten Madiun itu meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jawa Timur bertepatan ulang tahunnya ke-18. ’’Saya sudah memprediksi dapat emas di porprov kali ini, tapi tidak mengira kalau mendapatkannya saat ulang tahun,’’ kata Rini, sapaan akrab Juli Trian Marini, kepada Radar Caruban.

Warga Desa Kenongorejo, Pilangkenceng, ini turun dalam nomor kelas 57 kilogram. Babak undian mengharuskan Rini melawan empat kontingen unggulan. Tidak gentar, keempatnya malah ditaklukkan dengan hasil sangat meyakinkan. Lawan Banyuwangi menang mutlak 10-0 dan Surabaya menang Tus atau knockout (KO). Masuk perebutan final, Rini menyingkirkan Kota Malang dengan skor 10-1 dan menang Tus. ’’Finalnya 10-0 lawan Kabupaten Malang,’’ ujarnya.

Meski menang dengan skor yang terpaut jauh, Rini menilai empat lawannya cukup tangguh. Terutama Kota Malang yang sanggup memperoleh satu poin dari dirinya. Dalam kasus itu, putri Jaka Satria dan Sri Sumiatin ini belum siap memulai pertandingan. Tiba-tiba, tubuhnya langsung ditabrak hingga membuatnya keluar zona. ‘’Setelah itu konsentrasi saya tidak pernah hilang,’’ kata anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Di balik prestasi Rini sebagai penyumbang satu-satunya medali emas untuk Kabupaten Madiun, ada dukungan moril dari orang tua. Bapak dan ibunya menangis ketika dirinya berangkat ke Lamongan –venue cabor gulat– bersama rombongan cabor, 6 Juli lalu. Terutama ibunya yang usai salat Magrib tidak pernah melewatkan ngaji selama Rini bertugas membawa nama besar Kabupaten Madiun. ’’Setelah menang lawan Kabupaten Malang, saya meluk pelatih (coach Supriedi, Red) dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dan motivasi yang diberikan,’’ ucapnya.

Awal perkenalan Rini dengan gulat ketika masih kelas VIII SMP awal 2014 silam. Salah seorang teman mengajaknya ikut latihan. Rini pun menunjukkan minat ikut olahraga kontak fisik itu. Dia terkesan dengan gerakan para pemain di atas matras. Namun, keinginannya ditolak mentah-mentah oleh orang tua. Penyebabnya, kondisi fisik Rini tidak seperti orang pada umumnya. Kedua kakinya cacat sejak lahir hingga membuatnya tidak boleh melakukan aktivitas berat. ’’Meski tidak mengenakan alat bantu, cara saya berjalan tidak seperti orang normal,’’ ungkapnya.

Rini tidak menggubris peringatan orang tuanya. Mencuri waktu bermain usai pulang sekolah mengikuti latihan gulat. Kendati pola latihan yang diberikan terbilang ringan, dia sudah senang. Suatu hari aktivitasnya itu ketahuan orang tua yang berujung dengan dimarahi habis-habisan. ‘’Tapi saya tetap latihan sampai akhirnya diikutkan kejurda (kejuaraan daerah, Red) di Lamongan, Mei 2014,’’ katanya sembari menyebut tidak menyangka aktivitasnya untuk mengisi waktu luang berlanjut menjadi atlet.

Kejurda 2014 pun menjadi titik balik orang tua mengizinkan Rini menjadi seorang atlet gulat. Di kejuaraan itu, mahasiswi semester II Jurusan Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Semarang ini mampu meraih medali perunggu. Menerima kabar itu, orang tuanya sangat kaget. ‘’Ya, mereka tidak percaya kalau dengan kondisi fisik ini, saya bisa berprestasi di gulat,’’ sebut pengoleksi empat medali emas ini.

Lewat gulat pula, Rini bisa kuliah dengan beasiswa. Berpeluang menggapai cita-citanya sejak SMP menjadi guru olahraga. ‘’Dari lima anggota keluarga, hanya saya yang kuliah. Karena Bapak Ibu hanya buruh petani,’’ ungkapnya. *****(ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here