Jual Petasan Bisa Kena 12 Tahun Penjara

200

PACITAN – Memasuki Ramadan petasan mulai marak di Pacitan. Tidak jarang suara letusannya mengganggu ketertiban masyarakat. Terlebih, akhir-akhir ini aksi teror bom bunuh diri sedang marak. Karena itu, Polres Pacitan tegas melarang petasan beredar di Kota 1001 Gua ini. ‘’Kalau nekat kami tindak,’’ kata Kapolres Pacitan AKBP Setyo Koes Heriyatno kemarin (20/5).

Meski begitu, pedagang masih diperbolehkan menjual kembang api. Baik kembang api kawat, bakar, air mancur, tawon, dan lainnya. Hanya, dia mengharamkan penjualan kembang api atau petasan yang memiliki daya ledak tinggi. Terutama yang mengganggu ketertiban masyarakat. ‘’Apalagi yang pakai karbit,’’ imbuhnya.

Penindakan yang bakal dilakukan bertahap. Awalnya, pedagang yang berjualan petasan bakal ditegur. Ditanyakan izin penjualannya. Petasan tidak akan disita dengan syarat tidak diperjualbelikan. Namun, jika teguran tidak diindahkan, pihaknya tidak segan menyita dagangan petasan. ‘’Nanti dimusnahkan setelah hasil penyitaan terkumpul hingga akhir Ramadan,’’ jelasnya.

Bahkan, perwira dengan dua melati di pundak itu mengatakan, bisa saja pedagang dijerat sanksi pidana. Sebab, petasan termasuk bahan peledak. Sehingga, penjualannya dilarang. Itu sesuai Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 pasal 187 KUHP tentang Bahan Peledak. Pembuat, penjual, penyimpan, dan pengangkut petasan bisa dipidana minimal 12 tahun penjara dan maksimal seumur hidup. ‘’Jadi, selain dilarang juga ada ancaman pidananya,’’ imbuh Setyo.

Berdasarkan aturan tersebut, pihaknya minta agar pedagang sadar. Tidak mengambil risiko menjual petasan hanya demi keuntungan yang tidak terlalu besar. Selain itu, minimnya peredaran petasan diharapkan membuat kondisi masyarakat kondusif. Termasuk tidak mengganggu kegiatan ibadah warga. ‘’Kami akan gelar operasi ke pedagang-pedagang secara berkelanjutan,’’ jelasnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here