Kopi Racikan Sukartono Bikin Jokowi Ketagihan

119

NGAWI – Sukses tak melulu seputar finansial. Sukartono meraih kesuksesan lain di samping penghasilannya sebagai owner kafe. Dua kali dia berkesempatan menyajikan secangkir cappuccino untuk Presiden Jokowi. ‘’Omzet lumayan, tapi yang paling membuat saya senang adalah saat diminta membuatkan kopi untuk Pak Jokowi waktu berkunjung ke Ngawi itu,’’ ungkap Tono, sapaan akrab Sukartono kemarin (20/4).

Tono serius menyelami dunia perkopian sejak empat tahun silam. Berbagai teknik pengolahan dan penyajian kopi berhasil dikuasainya. Sebuah coffee shop dibukanya di Jalan Hasanudin, Ngawi, tepat di samping dengan kediaman pria 52 tahun itu.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Benteng Pendem pada Februari lalu menjadi puncak kesuksesannya sebagai pelaku usaha kopi. ‘’Malam hari saya didatangi beberapa petugas rumah tangga kepresidenan. Campur aduk rasanya,’’ kenang Tono.

Tono sempat tidak percaya diminta membuatkan cappuccino untuk Jokowi. Dia akhirnya memilih jenis kopi rosbusta asli Ngawi untuk disajikan kepada presiden asli Solo itu. Jurus meracik cappuccino diterapkannya dengan penuh antusias. ‘’Bangga sekali saat kedatangan beliau (Jokowi, Red) yang kedua kalinya ke Ngawi tahun ini. Minta dibuatkan cappuccino lagi,’’ terang ayah dua anak tersebut.

Momen bertatap muka dengan orang nomor satu se-Indonesia masih melekat di kepalanya. Syukur tak henti diucapkan Tono atas kesempatan spesial tersebut. Lebih-lebih, jika mengingat kiprahnya di dunia kopi jauh hari sebelumnya. ‘’Dulu, saya tahunya kopi ya cuma di warung-warung sambil nongkrong,’’ ungkapnya.

Tono mengawali bisnis kopi dari nol. Rasa tidak percaya saat menyesap tiga rasa berbeda dari satu jenis kopi yang sama menjadi titik awal Tono menyelami dunia perkopian. Pada 2015, dia bersama keluarga pelesir ke Jogjakarta.

Atas rekomendasi salah seorang kenalan, Tono bersama rombongan mampir ke salah satu tempat ngopi kenamaan di Kota Gudeg. ‘’Penasaran sudah muncul saat masuk. Antreannya sudah seperti antrean dokter,’’ seloroh ayah dua anak tersebut.

Kala itu, suami Diah Handayani ini memesan kopi yang berbeda satu sama lain untuk tujuh anggota keuarganya. Lidahnya menangkap rasa berlainan dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Dari situ, rasa penasarannya terhadap kopi semakin menjadi-jadi. Tak mau tanggung-tanggung, beberapa pekan setelah itu dia kembali ke Jogjakarta untuk mendalami ilmu perkopian. ‘’Niat saya semakin bulat setelah ada yang menyarankan kalau cari peluang bisnis itu yang langka. Saya kepikiran kopi,’’ ujarnya.

Singkat cerita, Tono lantas membuka coffee shop. Jenis kopi asli Bumi Orek-orek mendominasi sajian di kafe miliknya. Itu setelah melakukan observasi tentang kopi di kawasan Ngawi bagian barat. Dari yang mulanya ikut meladeni pelanggan, dia kini sudah memiliki sejumlah karyawan. Pun, omzet puluhan juta rupiah per bulan berhasil dikantonginya. ‘’Di dalam kopi ada seni,’’ ujarnya.

Satu lagi kesuksesan baginya dalam menekuni dunia kopi. Yakni, mampu menularkan ilmunya meracik kopi kepada orang lain. Ya, dia merekrut karyawan dari nol, lantas diajarkannya jurus-jurus menyajikan sebuah minuman sarat kafein tersebut.

Hal serupa diberikan kepada pelanggan yang datang dan melontarkan beragam pertanyaan seputar kopi. ‘’Sambil mengedukasi juga. Bahwa kopi itu bukan pait saja, melainkan ada taste lain yang bisa dimunculkan melalui pengolahan yang tepat,’’ papar Tono. (den/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here