Joko Sulistiono, Honorer SMK yang Jago Menulis Puisi

87

Di tengah aktivitas hariannya sebagai pegawai honorer di SMKN 1 Sawoo, Joko Sulistiono getol menulis puisi. Hobi menulis itu telah dituangkan dalam tiga karya antologi bersama komunitas sastra nusantara.

———————

NAMA seorang teman muncul di layar handphone koran ini kemarin siang. Setelah janjian, Joko Sulistiono, sahabat lama saat kuliah, itu telah duduk menanti di sebuah kafe di Jalan Pramuka. Masih sama, dia tetap sering menulis meskipun lebih berkutat di dunia administrasi sekolah. Usai menyeruput kopi, Joko mengeluarkan dua buku bersampul dasar putih dan hitam dari dalam tas. Buku pertama berjudul Menapak Waktu dan buku kedua berjudul Jejak Silam. Kedua buku itu merupakan antologi bersama para penyair di komunitas sastra nusantara. Sementara buku lain yang masih dalam proses penerbitan berjudul Rantau. ‘’Dua buku ini diterbitkan tahun lalu,’’ kata Joko.

Sehari-hari, pria kelahiran 1984 ini berkutat dengan urusan administrasi kepegawaian. Dia merupakan tenaga honorer bidang administrasi di SMKN 1 Sawoo. Kesibukan tak menghalanginya menyalurkan hobi menulis. Puisi-puisi tulisannya masuk dalam antologi puisi bersama Menapak Waktu. Buku itu diterbitkan setahun lalu bersama komunitas sastra nusantara. ‘’Itu yang pertama. Jadi, biasanya saya nulis kalau pas ada ide. Tapi, diusahakan tiap hari selalu menyisihkan waktu untuk berkarya,’’ ujarnya.

Beberapa bulan kemudian, kembali puisi-puisi termaktub dalam antologi puisi bersama Jejak Silam. Kini, Joko telah menyiapkan buku antologi puisi bersama terbaru. Dalam sebulan ke depan, proses penerbitan rampung. Konsistensi berkarya Joko patut diacungi jempol. Selain tanggung jawab mengurus administrasi kepegawaian yang menyita banyak waktu. Pun jarak antara tempat tinggalnya menuju sekolah sangat jauh. Tiap hari dia harus menempuh 30 kilometer bolak-balik rumah ke sekolah. Pun harus menempuh medan naik turun tanjakan ekstrem. Sebab, Joko tinggal di perbatasan Ponorogo-Trenggalek. Tepatnya di Desa Tumpuk, Sawoo. ‘’Rutinitas ini sudah saya lakoni sejak 2008,’’ tutur suami Anis Handayani itu.

Itu setelah memutuskan balik ke kampung halaman. Ketika itu dia yang bekerja di salah satu pabrik di Pasuruan mendapatkan tawaran menjadi tenaga honorer di bagian administrasi. Kebetulan selama 4,5 tahun dia bekerja di bagian administrasi gudang pabrik. Bekal ilmu administrasi itulah yang memantapkannya untuk pulang ke kampung halaman. Dia sempat Juara III lomba tenaga administrasi sekolah jenjang SMK yang diadakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2017 lalu. Terhitung mulai mengabdi, dia meneruskan kuliah di STKIP PGRI Ponorogo Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia 2009 lalu. ‘’Sejak itulah mulai suka menulis puisi,’’ urainya.

Hobi yang sudah dia lakoni sejak duduk di bangku kuliah itulah yang membuatnya harus menyisihkan waktu untuk menulis. Dalam sehari biasanya dia menggunakan waktu di malam hari berjam-jam menghadap layar komputer. Idenya tentang tema-tema sosialis yang menjadi ciri khas tulisannya dia tuangkan dalam bentuk puisi. Tidak sedikit pula tema tentang cinta, kritik pemerintah, dan religius tak luput dia garap. Justru dari situlah menurutnya beban hidup terasa ringan. Meskipun dia sebenarnya harus mencari penghasilan tambahan lain untuk menghidupi keluarga. ‘’Batin semakin tenang ketika menulis. Semua beban di pikiran, kita tuangkan dalam tulisan,’’ ucap ayah Dilla Safira Handayani itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here