Joko Driyono Jadi Plt Ketum PSSI Gantikan Edy Rahmayadi

223

NGAWI – Joko Driyono resmi menggantikan Edy Rahmayadi. Pria asal Ngawi itu menjabat Plt ketua umum (ketum) PSSI. Seperti apa PSSI ke depan? Dan, bagaimana dengan nasib Persinga? ’’Saya sangat ingin men-support Persinga,’’ kata Joko Driyono.

Namun, untuk menjadi besar tidak ada yang instan. Apalagi dengan cara sulapan. Pasti tidak akan panjang umurnya. Jokdri –sapaan akrabnya- tak membantah bila saat ini banyak yang berharap Persinga mampu promosi dari Liga 3 zona nasional. Atau bahkan bisa promosi sampai Liga 1, kasta tertinggi sepak bola tanah air. Kata dia, semua orang boleh saja punya impian sebuah kemewahan dan kehebatan seperti itu. Tapi, sepak bola itu bukan fokus pada hasilnya. Lebih penting lagi adalah prosesnya. ’’Saya rasa Ngawi harus bangkit sepak bolanya melalui pendekatan yang rasional dan natural tadi. Pasti akan saya support,’’ janjinya.

Mengenai kondisi Stadion Ketonggo yang belakangan jadi persoalan Persinga kala menjamu klub besar, itu hanya soal waktu saja. Pemerintah daerah, dalam hal ini bupati, pasti punya atensi terhadap perkembangan sepak bola di Bumi Orek-Orek. Dia yakin ada keinginan dari pemerintah daerah untuk meng-upgrade Ketonggo atau bahkan membangun stadion baru. ’’Kita sama-sama berharap itu jadi poin perencanaan jangka pendek dan menengah kabupaten. Karena itu bisa jadi lokomotif pembangunan sepak bola di Ngawi,’’ paparnya.

Mengenai jabatan barunya sebagai Plt ketum PSSI, Jokdri mengungkapkan masih ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, dirinya bisa menjabat hingga pelaksanaan kongres PSSI berikutnya sekitar November 2020 nanti. Atau ,jika suporter menghendaki untuk digelar Kongres Luar Biasa (KLB), Jokdri kemungkinan hanya akan memimpin organisasi sepak bola tertinggi tanah air itu hingga tiga bulan ke depan. ’’Setelah itu ya akan kembali ke posisi wakil ketua lagi,’’ ujarnya.

Soal jabatan barunya itu, Joko menanggapi bahwa itu adalah amanah konstitusi dan statuta yang harus dijalankan sebaik mungkin. Seperti diketahui, saat pelaksanaan Kongres PSSI sekitar dua tahun lalu Jokdri merupakan salah satu kandidat ketua umum yang dicalonkan. Namun, kalah dengan Edy Rahmayadi dan akhirnya dia ditunjuk sebagai wakil ketua umum. Dan sekarang, setelah Edy mundur, Jokdri mampu menduduki kursi jabatan tersebut.

Mengenai hal itu, Jokdri mengatakan bahwa PSSI merupakan organisasi besar yang mengurusi sepak bola tanah air. Kata dia, tidak mungkin itu akan diurus sendiri. Baginya, jabatan pimpinan tertinggi atau layer-layer di bawahnya itu sama-sama memiliki peran yang cukup penting. ‘’Bagi saya, menjadi tidak ada gunanya misalkan pada saat amanah ini saya terima tapi tidak dapat menjalankan sebaik-baiknya,’’ tuturnya.

Di PSSI sendiri, Jokdri merupakan orang yang memiliki banyak pengalaman. Dia menyebut gabung pertama kali dengan organisasi itu pada 2003 silam hingga sekarang. Selama waktu itu memang dirinya lebih kerap atau bahkan selalu menjalankan perannya di belakang layar dari pembangunan sepak bola tanah air. Memikirkan dan membuat perencanaan maupun konsep pembangunan sepak bola tanah air. ‘’Sekarang saya tidak hanya menjalankan peran itu, tapi juga pegang kendali langsung. Ini tantangan sekaligus amanah yang tidak mudah,’’ ungkapnya.

Ditanya mengenai target PSSI ke depan, Jokdri menyebut yang natural saja. Tapi, sebagai pengurus dia mengaku pasti memiliki ambisi yang tinggi dengan amanah yang diembannya. Salah satunya mampu membawa pulang emas dalam SEA Games di Manila, Filipina, tahun ini. Sekaligus mengulang kenangan manis yang pernah didapatkan terakhir kali pada 1991 silm. Soal permasalahan di tubuh PSSI sekarang, kata dia, pihaknya tetap akan mendukung langkah dan upaya kepolisian membongkar mafia bola. Tapi, bukan berarti pihaknya akan fokus ke masalah itu. ‘’Karena esensinya sepak bola tidak boleh berhenti. Penegakan hukum pasti akan kami support sebaik baiknya,’’ tegasnya. (tif/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here