Joe Barack

22

Oleh: Dahlan Iskan

Mereka berpasangan secara serasi. Dua pereode. Delapan tahun. Namun begitu tidak menjabat keduanya tidak pernah berhubungan. Via WA sekali pun.

Itu Barack Obama dan Joe Biden. Presiden ke 44 Amerika dan Wakilnya. Masing-masing hanya memendam dugaan: kenapa itu terjadi.

Di awal bulan ketujuh Joe lagi duduk-duduk di dalam rumahnya. Yang halaman belakangnya khas rumah orang kaya Amerika: luas sekali. Dengan hamparan rumput dan pepohonan.

Itu malam hari.

Di luar sudah lebih gelap.

Tapi Joe masih bisa melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Ada korek api menyala. Di halaman belakang itu. Agak di kejauhan. Di balik pepohonan sana.

Di Amerika berlaku peraturan: setelah enam bulan mantan Wapres tidak mendapat pengawalan apa pun. Karena itu Joe harus lebih waspada. Pun malam itu.

Joe curiga. Mengapa ada orang di halaman belakang. Ia bergegas ke locker di kamar tidurnya. Membuka kuncinya: ada senjata dan pistol di locker itu. Juga tersimpan medali tertinggi yang diterimanya. Penghargaan dari negara.

Ia hanya ambil pistol. Ia slempitkan di balik jasnya. Ia ajak serta anjingnya. Ke halaman belakang. Secara hati-hati.

Saat membeli pistol itu Joe ditegur isterinya: untuk apa? Kan sudah punya senjata?

Waktu itu Joe tidak bisa menjawab. Malam inilah jawabnya.

Begitu melewati pintu belakang Joe merasa aneh. Mencium bau rokok. Yang aromanya seperti pernah ia cium. Aroma rokok yang sama. Kian dekat ke pohon itu kian keras aroma rokoknya. Kian kenal pula aroma rokok apakah itu. Dan siapa yang biasa mengisap rokok seperti itu.
Barack Obama.

Joe pun menegurnya. Kok sekarang merokok lagi?

Intinya malam itu Barack ingin membisikkan kabar rahasia: teman baik Joe baru saja meninggal. Ditabrak Amtrak. Kereta api jurusan Delaware-Washington DC.

Yang misterius: Di meja kerja korban ditemukan peta. Menunjuk ke alamat Joe. Ini bisa krusial. Korban ditengarai bunuh diri. Atau fly oleh obat bius. Atau dibunuh jaringan perdagangan narkotik.

Apalagi si korban kenal baik dengan Joe. Ia kondektur Amtrak puluhan tahun. Joe adalah pelanggan Amtrak. Yakni saat Joe jadi anggota DPR. Selama 15 tahun. Sebelum menjadi Wapres.

Selama jadi anggota DPR itulah Joe selalu naik Amtrak. Dari rumahnya di Delaware ke gedung DPR di Washington DC. Satu jam perjalanan. Nyaris tiap hari.

Siapa pun di stasiun Delawar kenal Joe. Apalagi kondektur. Kelak, setelah Joe jadi Wapres, stasiun itu diberi nama ‘Stasiun Amtrak Joe Biden’.

Setelah perokok itu pergi Joe bertekad ingin menyelidiki mengapa kondektur itu tewas. Toh ia sudah tidak banyak kesibukan. Rasanya tidak mungkin bunuh diri. Orangnya baik. Dan lagi sudah hampir pensiun dari Amtrak.

Joe ingin merasakan jadi seperti detektif swasta. Ingin membongkar misteri kematian kondektur itu.

Barack membantu sepenuhnya. Termasuk paspampres yang masih melekat mendampinginya. Yang untuk mantan presiden tidak ada batasan enam bulan.

Keduanya pun terlibat lika-liku penyelidikan. Sampai menyamar tidur di motel murahan. Juga sampai ngebut mengejar motor besar yang mencurigakan. Joe yang pegang kemudi. Sampai tergelincir ke sawah. Barack yang mendampingi.

Akhir cerita Joe berhasil. Pembunuhan itu terbongkar. Satu jaringan perdagangan obat bius terungkap. Salah satunya tokoh polisi di Delaware. Yang amat ia percaya.

Di akhir cerita terjadi tembak-tembakan. Barack sampai tiarap di atas aspal. Si polisi menembak Joe. Yang ditembak pun roboh. Tubuhnya ambruk ke tubuh Barack.

Wah, Joe tertembak. Barack melihat sendiri peluru mengenai dadanya. Pasti Joe tewas. Begitu pikir Barack.

Ternyata Joe tidak apa-apa. Justru sang polisi yang roboh.
Lho tadi kan peluru mengenai dadanya. Kenapa tidak berdarah?
Joe merogoh satu. Mengeluarkan tanda jasa tertinggi yang ia kantong. Medali itu yang penyok. Kena peluru.

Hollywood banget.

Kisah itu memang fiksi. 100 persen fiksi. Ditulis dalam wujud sebuah novel. Judulnya: Hope Never Dies. Yang baru selesai saya baca minggu lalu.

Itulah sebuah novel laris di Amerika. Penulisnya Anda sudah tahu: Andrew Shaffer. Penulis cerita film Hollywood ‘Fifty Shades of Grey’ itu. Yang di Indonesia sangat terkenal itu.

Shaffer juga menulis buku lainnya seperti ‘Yoga – Philosophy for Every One, Bending Mind and Body.

Saya nyaris tidak bisa berhenti membaca novel ‘Hope’ itu. Tokoh-tokohnya begitu akrab di benak kita. Karakter tokohnya pun mencerminkan karakter Barack yang kita kenal. Dengan intelektualitasnya. Dengan flamboyannya. Dengan humor-humor tingkat tingginya.

Demikian juga karakter Joe yang kita kenal. Terasa sekali tercermin di novel itu. Juga dengan keseniorannya. Dan humor tingkat tingginya.
Tercermin juga betapa serasi pasangan itu. Betapa sudah seperti keluarga. Meski yang satu kulit putih dan satunya kulit hitam.

Di akhir cerita baru diungkap: mengapa keduanya tidak saling kontak selama enam bulan terakhir.

Kata Joe: khawatir mengganggu Barack. Yang ia lihat begitu sibuk keliling dunia. Bersama tokoh-tokoh muda. Barangkali Barack tidak mau lagi berhubungan dengan orang-orang tua seperti dirinya. Umur Joe sudah 76 tahun.

Sedang pikir Barack: dikira Joe sengaja menjauhi Barack. Siapa tahu ia akan mencalonkan diri sebagai presiden. Yang harus menghindar dari bayang-bayang Barack.

Sekali lagi itu vovel. Fiksi.

Yang ternyata kemudian benar hanyalah: Joe akhirnya memang mencalonkan diri sebagai presiden. Untuk Pilpres 2020. Melawan incumben Donald Trump.

Tua lawan tua.

Tapi kan tidak ada lagi istilah orang tua sekarang ini. Sejak Mahathir Muhamad terpilih sebagai perdana menteri Malaysia. Di umurnya yang 93 tahun.

Saya membayangkan: kalau hubungan pak SBY dan bu Mega dibuat novel pasti akan laris manis pula. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here