Jika Tak Ada Jadwal Manggung Pilih Jualan Dawet

1587

PONOROGO – Kumala Ziani Ramadhani tidak asing lagi. Memerankan tari jathil, gadis kelahiran 18 November 2001 itu sudah manggung di berbagai kota. Mulai Surabaya, Jogjakarta, hingga Solo. Teranyar, dia mendapat undangan tampil di Jakarta. Namun, dia terpaksa menolaknya lantaran berbenturan dengan ujian. ’’Terpaksa sih, tapi bagaimana lagi karena memang harus ikut ujian sekolah,’’ kata perempuan yang akrab dipanggil Malla itu.

Sebagai seorang pelajar, Malla harus pandai membagi waktu. Seringnya jadwal manggung bentrok dengan kegiatan belajar membuatnya harus memprioritaskan kewajiban sebagai pelajar. Meski demikian, dirinya selalu memanfaatkan waktu luang untuk berlatih. ’’Harus tetap diasah agar semakin luwes,’’ ujarnya.

Keluwesannya dalam menari jathil membuat namanya tenar. Melalui jathil, anak tunggal pasangan Mujiono-Sutriani itu ingin memperkenalkan budaya asli daerah setempat. Pun merawat budaya yang menjadi warisan para leluhur. ’’Gak ngeh sekali, kalau asli Ponorogo tapi tidak bisa menari reyog,’’ ungkapnya.

Lemah gemulai gerakan tarian yang dibawakan Malla selalu mengundang perhatian penonton. Rupanya perempuan asal Desa Demangan, Siman, Ponorogo, itu mewarisi darah seni ibunya yang juga penari jathil. ‘’Sudah sejak sekolah dasar suka tari jathil, memang sudah dikenalkan sama Ibu sejak kecil. Kebetulan Ibu juga seorang penari,’’ terangnya.

Dia mulai serius menekuni tari jathil ketika duduk di kelas VIII SMP. Hampir tiap hari dia berlatih di salah satu sanggar yang ada di desanya. Pun sang ibu juga kerap membenarkan gerakan saat berlatih di rumah. ’’Ingin seperti Ibu, ketika menari gerakannya begitu luwes,’’ tuturnya.

Keseriusannya berlatih berbuah manis. Kini undangan tampil mengalir deras. Dari hasil itulah, dia mampu membantu kedua orang tua membiayai pendidikannya. Bahkan, sepeda motor yang dipakai tiap hari ke sekolah merupakan hasil keringat Malla saat manggung. ‘’Bersyukur dapat membantu Bapak Ibu,’’ ucapnya.

Berkat ketenarannya dalam dunia seni, Malla pun kini juga diminta sebagai endorse salah satu produk di toko ternama daerah setempat. Raihan itu memotivasinya ingin terus mengenalkan seni reyog, khususnya tari jathil. ‘’Itu semua juga berkat doa dan dukungan orang tua,’’ ujarnya.

Meski namanya telah tenar, hal itu tak membuat Malla gengsi. Di waktu tidak ada jadwal manggung, Malla memanfaatkannya untuk membantu ibunya yang jualan es dawet. Dia tidak merasa malu ataupun canggung melayani pembeli. ’’Ngapain malu, gak ada salahnya bantu orang tua,’’ ucapnya. (mg7/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here