Jika Aktif, Dipindah Jauh dari Permukiman

15

MADIUN – Butuh komitmen kuat dari berbagai pihak untuk menghidupkan kembali jalur Staatspoorwegen Madiun-Ponorogo. Meski jejak relnya yang masih bisa ditemukan tidaklah utuh. Namun, mereaktivasi jalur yang telah mati bukan tidak mungkin dilakukan. Beberapa daerah bahkan sudah memberi contoh. ’’Semua itu serba mungkin, tergantung komitmen pemerintah. Karena kaitannya dengan dana investasi yang besar,’’ ungkap Manajer Humas PT KAI DAOP VII Madiun Supriyanto, kemarin (13/4).

Supriyanto tidak menampik jika wacana reaktivasi jalur Madiun-Ponorogo telah berembus sejak 2010 lalu. Berbagai pihak silih berganti mencuatkan wacana itu ke publik. Termasuk kemenhub yang tahun lalu mencanangkan target perluasan jalur rel di pulau Jawa, sepanjang 6.168 kilometer pada 2035 mendatang. Pun lewat sejumlah bahasan antara KAI dengan Bappeda Jatim, wacana reaktivasi jalur kereta api Madiun-Ponorogo juga sempat beberapa kali mengemuka. ‘’Yang jelas perlu ada komitmen yang kuat,’’ kata dia.

Menurut Supriyanto, urusan reaktivasi jalur kereta api tidak malah jadi urusan PT KAI. Sebab, otak kebijakan tetaplah pemerintah. Di beberapa daerah seperti Ambarawa-Kedungjati, Grobogan, bahkan Semarang-Pelabuhan Tanjung Mas, pemerintah daerah bersama provinsi getol mengupayakan reaktivasi rel mati pada pemerintah pusat. ‘’Hanya, reaktivasi tidak selalu murni menggunakan jalur rel lama begitu saja. Reaktivasi tetap butuh rel baru,’’ sebutnya.

Supriyanto menyebut, jalur mati Madiun-Ponorogo sepanjang 32 kilometer itu sulit dipakai. Tidak hanya karena jalurnya kini dijejali permukiman atau fasum. Rupanya jenis relnya pun berbeda dengan sekarang. Rel Madiun-Ponorogo berjenis R25. Maksudnya satu meter batang rel beratnya 25 kilogram. Saat ini, jalur rel jarak jauh berjenis R62, atau seberat 62 kilogram. Singkatnya, rel lama itu tak akan sanggup menahan beban kereta jenis baru. ’’Harus ganti rel. Juga dimungkinkan perlu memindahkan jalur, jauh dari permukiman,’’ kata Supriyanto.

Namun jika reaktivasi itu terwujud, dampaknya akan mendongkrak perekonomian daerah. Sebab semakin hari, pertumbuhan volume kendaraan bermotor terus meningkat signifikan. Sementara tidak diimbangi semakin banyaknya jalan. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta bisa menjadi pelajaran. Dengan adanya moda transportasi seperti kereta api, maka itu tetap akan menjaga konektivitas antar daerah. ‘’Kalau daerah berpikir transportasi masal yang cepat dan menunjang konektivitas, ya kereta api,’’ ujarnya.

Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) turut beranggapan jika reaktivasi jalur rel Madiun-Ponorogo membutuhkan keseriusan dari PT KAI serta pemerintahan yang lebih tinggi. Sejauh ini, wacana reaktivasi jalur yang di 1907 pertama dioperasikan perusahaan jawatan Staatspoorwegen itu tidak pernah menyinggung pemkot. Padahal, pemkot perlu diajak koordinasi. ’’Tidak bisa jika tidak libatkan pemkot, melihat posisi dan situasi kondisi saat ini. Banyak kepentingan masyarakat dan umum di atas jalur itu,’’ bebernya.

Namun demikian, SR juga tak menampik soal dampak positif yang bisa ditimbulkan dengan adanya kereta api rutin Madiun-Ponorogo. Kendati, hal itu belum teruji. Dia memprediksi sisi ekonomis akan berdampak signifikan. ’’Tidak hanya penumpang, namun juga perpindahan barang. Termasuk tentu saja harapannya perpindahan barang-barang hasil produksi,’’ tukas SR. (naz/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here