Jembatan Putus, Warga Dua Desa Terisolasi

128

PACITAN – Sedikitnya 242 kepala keluarga (KK) di Desa Kemuning dan Ngreco, Tegalombo, Pacitan, terisolasi. Desa Kemuning 192 KK dan Ngreco 50 KK. Itu setelah jembatan penghubung akses utama putus diterjang derasnya aliran Sungai Grindulu, Rabu (6/3). ‘’Kejadiannya sekitar pukul 19.00,’’ kata Ketua RT 1 Dusun Tosari, Kemuning, Katmin Sembiring, kemarin (7/3).

Saat itu Katmin sedang berada di poskamling seberang jalan salah satu ujung jembatan Kemuning bersama sejumlah warga lainnya. Mereka berjaga lantaran khawatir Sungai Grindulu meluap. Tak lama muncul suara gemuruh dari arah jembatan. Diperkirakan berasal dari benturan batang kayu dan tiang jembatan. ‘’Suaranya keras. Ternyata jembatan sudah hanyut,’’ ujarnya.

Warga pun kian waswas. Pasalnya, jembatan tersebut menjadi akses utama mereka. Terdapat empat sekolah yang siswanya biasa memanfaatkan jembatan tersebut. Di antaranya SMPN 1 Tegalombo, SDN 1 Tegalombo, MA Tegalombo, dan PAUD Tunas Mandiri. ‘’Untungnya hari ini libur. Kalau besok (hari ini, Red) nggak tau, mungkin tidak masuk,’’ tuturnya.

Peristiwa putusnya jembatan Kemuning juga mengancam roda perekonomian masyarakat. Warga di seberang jembatan mayoritas petani. Untuk menjual hasil panennya mereka memanfaatkan jembatan tersebut. Tidak heran jika hampir setiap hari di sekitar jembatan jadi tempat berkumpul angkutan umum menuju pasar dan lainnya. ‘’Tiap pagi banyak angkutan ngetem di sini,’’ katanya.

Katmin menyebut, untuk melalui jalan lain merepotkan. Pasalnya, akses terdekat, yakni jembatan Ngreco, berjarak sekitar tujuh kilometer. Sedangkan melalui Desa Tegalombo justru lebih jauh lagi. Itu pun beberapa ruas masih berupa jalan setapak. ‘’Dengan keadaan ini kami cuma bisa pasrah,’’ ucapnya.

Kejadian tersebut sudah dilaporkan ke kepala desa dan camat setempat. Harapannya, segera diperbaiki. Minimal dalam waktu dekat dibuatkan jembatan darurat. ‘’Masyarakat memohon segara ditanggapi dengan serius. Karena yang memanfaatkan dua desa. Kemuning tujuh RT dan Ngreco dua RT,’’ bebernya.

Derasnya aliran Sungai Grindulu tidak hanya memutus jembatan Kemuning. Jembatan Borang, Arjosari, juga rusak. Badan salah satu ujung jembatan ambles. Hanya menyisakan satu sisi beton selebar 50-an sentimeter. Untuk  melintas, warga berjalan meniti beton tersisa tersebut. Sedangkan sepeda motor dan kendaraan roda empat tidak bisa melintas. ‘’Biasanya lewat sini, mau bagaimana lagi. Kalau lewat Pagutan jauh. 1,5 kilometer lebih,’’ tutur Kardi, warga setempat, saat hendak menuju ladangnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here