Jelang Nataru, Sembilan Lokomotif Dirawat Bergiliran

109

MADIUN – Persiapan angkutan Natal dan tahun baru (Nataru) terus dilakukan PT KAI Daop VII. Tidak hanya terkait ketersediaan tiket penumpang, perawatan lokomotif juga menjadi perhatian.

Seperti terpantau di Dipo lokomotif Madiun kemarin (15/12). Satu unit lokomotif diesel-elektrik CC 201 menjalani proses pemeriksaan bulanan (P1).

Perawatan tersebut mencakup beberapa item. Di antaranya, pengecekan suling lokomotif, lampu sorot dan kabin, kelistrikan, spidometer, ”deadman” pedal, GPS, pengereman, serta wiper. Selain itu, pemeriksaan rangka bawah yang berhubungan dengan boogie dan alat perangkai terkait keausannya.

Kepala UPT Dipo Lokomotif Madiun Joko Supriadi mengatakan, ada sembilan unit lokomotif yang hampir setiap waktu dilakukan perawatan di tempatnya. Meliputi empat unit lokomotif CC 203 dan lima unit lokomotif CC 201. ’’Tujuh di antaranya merupakan lokomotif reguler. Sedangkan, satu lokomotif yang saat ini sedang dilakukan perawatan tersebut biasa menarik kereta jenis BBM,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Dia menyebut proses perawatan lokomotif dikerjakan oleh 12 orang teknisi. Dengan begitu, proses pemeriksaan bisa berlangsung cepat. Misalnya, untuk pemeriksaan bulanan (P1) membutuhkan waktu hanya 1–2 hari. ’’Kalau ada kerusakan berat, kami biasa bawa ke Balai Yasa. Karena di sana seluruh suku cadang yang dibutuhkan telah tersedia,’’ ujar Joko.

Manajer Humas Daop VII Madiun Ixfan Hendriwintoko mengatakan, selama masa Nataru pihaknya telah menyiapkan sembilan unit lokomotif dan tiga unit lokomotif cadangan. Serta 63 unit kereta siap operasi dan sembilan unit kereta cadangan. ‘’Kami juga siapkan petugas jaga perlintasan dan pemeriksa jalur ekstra. Juga petugas penjaga daerah rawan pada masa liburan Nataru,’’ terangnya.

Pada musim liburan akhir tahun kali ini pihak Daop VII Madiun mengoperasikan 43 perjalanan kereta api reguler. Serta menyiapkan 10 perjalanan kereta api tambahan untuk melayani penumpang.

Di samping itu, pihaknya juga mengawasi perlintasan sebidang pada saat liburan Nataru. Bentuk pengawasan itu diawali dengan proses sosialisasi. Seperti pemasangan spanduk dan pembagian stiker kepada masyarakat. ‘’Selebihnya imbauan saja,’’ tuturnya.

Dia menyebutkan ada sekitar 382 perlintasan sebidang di sepanjang jalur kereta api Daop VII Madiun. Dari jumlah tersebut sudah terdapat pengurangan hingga 76 titik. Sedangkan, target yang ditetapkan pengurangan perlintasan sebidang hingga 125 titik mulai 2016–2018. ‘’Kalau perlintasan sebidang yang sudah ada penjaganya itu ditambah petugas penjaga ekstra. Sedangkan, pada perlintasan (sebidang) liar itu memang tidak ada petugas penjagaan dari kami,’’ terang Ixfan.

Pihaknya memetakan ada sekitar delapan titik jalur kereta api di Daop VII yang rawan terdampak bencana. Baik itu banjir maupun tanah longsor. Seperti di sepanjang jalur kereta mulai Walikukun–Geneng tergolong rawan banjir. Kemudian di seputar Wilangan terdapat tebing yang berpotensi longsor saat hujan. Kondisi serupa juga berlaku di sepanjang jalur kereta masuk wilayah Talun. ‘’Ada sekitar 96 petugas ekstra yang kami siagakan untuk menjaga titik-titik rawan tersebut,’’ tandas Ixfan. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here