Jejak Sinema Gemeente Madioen: Pelarian Televisi, Mati Setelah Reformasi

382

Apollo Theater atau Arjuno Theater dan Gemeente De Cecilia Schouwburg atau Gedung Pertunjukan Kota. Dari dua gedung itulah perjalanan bioskop di Kota Madiun dimulai. Pada masa pendudukan Belanda gedung itu dijadikan sarana hiburan paling beken. Selain tiga societeit yang saat ini tinggal cerita.

……………

JOESIN merawat ingatannya tentang masa kejayaan gedung bioskop yang sempat dikelolanya. Gedung tua di pojok alun-alun Kota Madiun itu merupakan bioskop pertama. Menjadi tempat paling ngetop di masanya.

Dari Kediri, Joesin melanglang buana ke berbagai daerah di tanah air. Hingga akhirnya berlabuh di Kota Madiun. Pak Lip, pengusaha keturunan Tionghoa asal Kediri, memintanya mengurus Arjuna Theater sekitar 1990-an. Bersama istrinya, kakek 66 tahun itu lantas boyong ke Kota Madiun. Sehari-hari, dia dipercaya sebagai asisten manajer. Bertanggung jawab terhadap operasional bioskop. ‘’Setiap pekan hitung pemasukan lalu dikirimkan ke Pak Lip,’’ kata Joesin.

Joesin tidak mengetahui persis tentang sejarah Arjuno Theater. Sejak dia dipercaya mengelola, tidak ada perubahan sedikit pun. Artinya, gedung itu telah berdiri puluhan tahun sebelumnya. Saat itu, kenang Joesin, ada tiga bioskop lain yang turut beroperasi. Yakni, Madiun Theater di Jalan Agus Salim (sekarang Madiun Furniture), Fatima Theater (sekarang Gedung Kesenian), dan Lawu Theater (sekarang Lawu Plaza).

Melihat arsitekturnya, gedung tua itu sejak awal dirancang untuk pentas pertunjukan. Lantai gedung dibuat miring dengan bagian timur lebih tinggi. Konstruksinya dikhususkan untuk tempat duduk. Agar penonton yang duduk belakang dapat menyaksikan pertunjukan. ‘’Menghadapnya ke barat. Nah, di sebelah barat itu ada layar besar,’’ terangnya.

Gedung itu dapat menampung 800 penonton. Di masa kejayaannya, tidak pernah sepi penonton. Layaknya bioskop masa kini, pemutaran film berlangsung setiap hari terbagi tiga jadwal. Mulai pukul 17.00, 19.00, dan 21.00. Tiap jadwalnya menampilkan genre berbeda. ‘’Ada tiga jenis, mulai film anak-anak, 13 tahun ke atas, hingga dewasa,’’ sambungnya.

Ketika itu, harga selembar tiket antara Rp 600-800. Pengunjung dapat membeli karcis di loket jendela sebelah barat. Tempat duduk penuh pengunjung ketika pemutaran film action barat dan film dewasa Indonesia berbau hohohihe. Sementara film khusus anak biasa diputar tiga bulan sekali lantaran sepi peminat. ‘’Jadwal pemutaran filmnya digilir dari kota ke kota,’’ paparnya.

Film diputar menggunakan proyektor sorot tua. Kaset berupa rol gulungan sebesar tampar. Satu judul film bisa terdiri lima rol. Kaset tersebut didatangkan setelah beberapa minggu pemutaran film di kota besar. Di Jawa Timur, film pertama diputar di Surabaya selama seminggu. Setelah itu kaset dikirim ke Malang. Selang seminggu di Kediri lalu dikirim ke Kota Madiun. ‘’Jadi, nunggu dulu dari sana,’’ tuturnya.

Era itu, Arjuno Theater menjadi satu-satunya tempat yang menyajikan hiburan menarik. Meskipun gedung bioskop tanpa pendingin ruangan yang terkadang membuat penonton pengap sampai melepas baju. ‘’Dulu kan televisi yang punya sedikit. Siarannya cuma TVRI. Makanya penonton rela berjubel datang ke bioskop,’’ kenangnya.

Pascareformasi, Arjuno Theater mengalami penurunan drastis. Seiring gempuran VCD bajakan yang masif ke daerah-daerah. Selain itu, televisi semakin berkembang dan menjamur. Hingga 2002, bioskop ini resmi menggulung layarnya. ‘’Peminatnya tinggal satu-dua. Biaya operasional sudah tidak mencukupi lagi,’’ ungkapnya.

Kini, kejayaannya tinggal menyisakan kompleks bangunan seluas 1.500 m2. Joesin memilih menempati bangunan di belakang gedung Arjuno Theater yang dulunya menjadi kantor. Sekarang kompleks itu dijadikan tempat penitipan gerobak pedagang kaki lima. ‘’Sekarang saya jadi instruktur senam terapi Ling Tien Kong,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here