Mejayan

Jatah DAK untuk Revitalisasi Pasar Nominalnya Hanya Naik Rp 200 Juta

MEJAYAN, Radar Caruban – Kucuran dana alokasi khusus (DAK) revitalisasi pasar untuk Kabupaten Madiun nyaris stagnan. Tahun depan, pemerintah pusat menggelontorkan duit Rp 3 miliar. Nominal tersebut hanya naik Rp 200 juta dibandingkan yang diterima pemkab tahun ini Rp 2,8 miliar.

Padahal, dua tahun lalu besaran duit APBN itu menyentuh angka Rp 5 miliar. ‘’Karena porsinya sudah segitu, kami hanya bisa menindaklanjuti,’’ kata Plt Kabid Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi Kamis (14/11).

Agus menuturkan, berapa pun bantuan pemerintah pusat sejatinya tidak ada masalah. Namun, yang membuat pihaknya kurang puas adalah peruntukannya. Selama ini dana yang terbatas itu harus diecer untuk merehabilitasi sejumlah pasar rakyat.

Kondisi tersebut membuat langkah perbaikan pasar selama ini terkesan tidak bisa langsung tuntas. ‘’Misalnya Pasar Pagotan dan revitalisasi Pasar Mlilir, Dolopo, yang berlangsung dua tahap,’’ ujar Agus.

Pada 2018, disperdakop-UM mendapat jatah DAK Rp 5,4 miliar. Duit tersebut dialokasikan untuk merenovasi lima pasar. Selain Pasar Pagotan dan Mlilir, juga ada Balerejo dan Dungus. Tahun berikutnya uang Rp 2,8 miliar dibagi untuk melanjutkan perbaikan Pasar Mlilir alias tahap kedua dan pembangunan los dagang di Pasar Umum Caruban.

Agus menjelaskan, kebijakan membagi DAK untuk beberapa pasar itu ketentuan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Pemerintah pusat menarget 100 pasar telah diperbaiki pada 2020. Dengan kalimat lain, orientasi kebijakan bukan kualitas, melainkan kuantitas. Karena itu, revitalisasi menyeluruh seperti Pasar Sambirejo, Jiwan, beberapa tahun lalu tidak bisa lagi dilakukan. ‘”Pasar Sambirejo saat ini sudah bagus dari sebelumnya kumuh,’’ ungkapnya.

Lantas, dialokasikan ke mana DAK Rp 3 miliar tahun depan? Dia menyebut, duit itu untuk revitalisasi Pasar Muneng dan Pasar Sukolilo, Jiwan. Masing-masing Rp 2 miliar dan Rp 1 miliar. Jatah Pasar Muneng lebih besar karena membuat los permanen baru di bekas lokasi los semipermanen yang beberapa waktu lalu dihancurkan. Sedangkan Pasar Sukolilo membangun kios semimodern. ‘’Biar kesannya tidak kuno,’’ tandasnya. (cor/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close