Magetan

Jatah DAK Tak Ditransfer, Gagal Poles Sarangan

MAGETAN – Pengembangan objek wisata Telaga Sarangan tahun ini gagal. Dipicu tak dapat ditransfernya jatah Dana Alokasi Khusus (DAK) 2019. Padahal, sudah dialokasikan anggaran sebesar Rp 1,4 miliar untuk membangun jembatan di bibir telaga. ’’Tidak ada masterplan yang melandasi,’’ kata Plh Kepala Disparbud Kabupaten Magetan Venly Tomi Nicholas.

Diakuinya, masterplan tersebut penting untuk pengembangan pariwisata Telaga Sarangan. Sehingga, pembangunannya berurutan. Seperti membuat rumah yang dimulai dari fondasinya terlebih dahulu. Baru kemudian dinding dan beranjak ke pemasangan atap. Apalagi, banyak pihak yang berwenang terhadap Telaga Pasir tersebut. Bukan hanya Pemkab Magetan yang menguasainya. ’’Bangun sesuatu itu tidak bisa seingatnya. Harus ada landasan yang jelas. Masak mau bangun rumah tiba-tiba memasang genting, kan tidak bisa,’’ ujarnya.

Untuk membangun jembatan itu, kata Venly, harus mendapatkan izin dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Karena membangun di atas air harus mendapatkan rekomendasi pula dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Pun, harus melalukan banyak kajian terlebih dahulu. Mulai studi kelayakan, geodesi, geologi, hingga analisis dampak lingkungan (amdal). Itu semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebelum berkas pelelangan diserahkan ke unit layanan pengadaan (ULP), tak satu pun kajian itu yang sudah ada. ’’Kajian ini membutuhkan waktu lama,’’ tuturnya.

Tak cukup hanya dengan mendapatkan izin dari Kemen PUPR. Pengembangan pariwisata di Telaga Sarangan juga bakal melibatkan Perhutani Lawu DS. Bisa bermasalah jika pemkab mengembangkan pariwisata itu tanpa seizin badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. Berapa luasan lahan yang dibutuhkan pemkab dan berapa lahan yang diizinkan Perhutani untuk dikembangkan. Pola kerja sama juga perlu dibuat sedetail mungkin. ’’Tiba-tiba bangun kamar di rumah orang lain, ya bisa jadi masalah. Makanya butuh masterplan dulu biar jelas,’’ katanya.

Venly bingung saat pertama kali didapuk sebagai Plh kepala disparbud. Dia hendak melangkah untuk mengembangkan telaga yang berada di Kecamatan Plaosan tersebut. Mengingat bidang pariwisata sudah memiliki konsep pembangunan jembatan di bibir telaga dan anggaran juga sudah tersedia. Namun, langkahnya terhenti karena tak memiliki selembar pun surat rekomendasi. Mau tak mau dia harus balik kanan dan mengembalikan duit itu. ’’Kenapa tidak disiapkan dulu. Setelah saya mau bergerak, tidak bisa,’’ ucapnya.

Venly tak patah arang dengan kegagalan tersebut. Pada Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2019 ini, dia mengajukan anggaran untuk pembuatan masterplan pengembangan Telaga Sarangan. Sehingga, ke depan pengembangannya tidak semrawut dan tertata rapi. Begitu pula wewenang pihak satu dengan lainnya agar tidak saling tumpang tindih. ’’Kalau masterplannya jelas, ke depan tinggal bangun. Begitu kan lebih enak,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close