Jangan Jadi Kota Seribu Pita Penggaduh

359

MADIUN – Ini yang bikin Kota Madiun tidak pernah dilalui event bersepeda bergengsi Tour de Indonesia. Apalagi kalau bukan karena pita penggaduh atau speed trap. Bahkan, jumlahnya sekarang semakin banyak.

Setelah di Jalan DI Panjaitan, baru-baru ini ditambah di depan Mapolres Madiun, Jalan Soekarno-Hatta.

Bagi pesepeda, keberadaan speed trap itu seperti momok menakutkan. Sejumlah pengguna jalan juga mengeluh karena perut seakan dikocok.

’’Nggak nyaman, sekarang jalanan di kota banyak speed trap,’’ kata Faishal Sayoga, salah seorang pengendara motor.

Faishal tidak serta merta menyalahkan. Namun, dia merasa prihatin. Apalagi yang melintas itu perempuan yang sedang hamil. ’’Sudah cukup, di gang-gang sudah banyak, ini ditambah di jalan utama. Nanti depan instansi lain dipasang lagi, sudah jangan,’’ ujarnya.

Sementara, pihak pemkot tidak mengetahui ada pita penggaduh di Jalan Soekarno-Hatta. Memang itu masuk jalan nasional, tapi idealnya dinas perhubungan setempat juga paham. Saat Jawa Pos Radar Madiun menghubungi Kepala Dishub Kota Madiun Ansar Rasidi, jawabannya bikin kaget. Ansar mengaku belum mengetahui adanya pemasangan garis kejut itu. ’’Sepertinya memang baru,’’ katanya.

Sejatinya dia tidak tahu persis perihal pembangunan markah kejut di jalan nasional tersebut. Namun, jika kehadiran markah kejut dinilai mengganggu pengendara, dishub bakal berkoordinasi dengan pihak terkait. ’’Sebaiknya dikonfirmasikan dulu ke penyelenggara yang punya wewenang,’’ jelasnya.

Kendati demikian, keberadaan pita penggaduh tersebut terhitung landai dan sesuai standar. Tadi malam saat melintasi areal tersebut Ansar meninjau langsung ukurannya. ’’Cukup landai, berbeda dengan yang di Jalan DI Panjaitan, di sana agak tinggi,’’ paparnya sembari menyebut sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan.

Sementara, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUTR Kota Madiun Thoriq memberikan keterangan lebih lanjut. Dia menyebut pita kejut dibangun oleh dinas pekerjaan umum pada Rabu kemarin (27/12) atas dasar permintaan dari Polres Madiun. ‘’Katanya beberapa waktu lalu  ada anggotanya yang hampir terserempet, tapi untuk lebih detailnya langsung tanyakan yang bersangkutan (Polres Madiun, Red),’’ katanya.

Thoriq mengklaim pita penggaduh telah dibangun sesuai aturan yang berlaku. Ketinggian tidak lebih dari empat sentimeter dan jarak antarmarkah 50 sentimeter. Saat disinggung  perihal izin pembangunan markah, Thoriq hanya menjawab singkat, ‘’Sudah (berizin, Red).’’ Lalu bergegas memutuskan sambungan telepon Jawa Pos Radar Madiun lantaran sedang menerima tamu.

Sementara itu, Nanang Kurniawan, staf teknik Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 15, belum berhasil dikonfirmasi terkait izin markah kejut tersebut. Nanang hanya menjawab pesan singkat dari wartawan koran ini yang menerangkan sedang rapat. Saat dihubungi kembali, tidak ada jawaban. (mg2/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here