Jangan Ada Korban Lain setelah Suami Saya

427

Hilangnya nyawa tiga penderita demam berdarah dengue (DBD) setengah bulan ini bukan yang terakhir. Korban gigitan nyamuk Aedes aegypti itu terus berjatuhan. Terbaru, merenggut nyawa Eko Prasetyo, penderita asal Desa Manuk, Kecamatan Siman, Ponorogo.

——————-

RUMAH Desi Krestiani di Desa Manuk, Siman, Ponorogo, pagi itu terlihat lengang. Di depan rumah terdapat terop dan kursi bertumpukan. Dikhususkan para pelayat yang tidak cukup bertempat di rumah. Rumah itu berada di sebuah gang. Di depannya terdapat bendera putih. Di rumah itu ada beberapa sanak keluarga yang terlihat sibuk. Desi menyambut kedatangan wartawan koran ini dengan tangan terbuka. Meski sesekali sesenggukan berlinang air mata, istri almarhum tidak lantas menutup diri.

Alasannya sungguh mulia. Dia tidak ingin ada korban berjatuhan lagi seperti yang dialami suaminya. Kendati sejujurnya dia tidak dapat menyembunyikan kesedihan saat bercerita tentang almarhum suaminya. Apalagi mereka baru menikah tiga tahun. Pun, keinginan memiliki buah hati belum tercapai. Takdir berkehendak lain, Desi ikhlas menerima suaminya berpulang untuk selamanya. ‘’Saya gak ingin ada korban lain seperti yang dialami suami saya,’’ ucap Desi.

Sebelumnya, Desi tidak menyangka suaminya bakal terjangkit DBD. Sebab, di desanya selama ini tidak ada yang terjangkiti. Hanya, suaminya bekerja sebagai kuli bangunan di Slahung. Pun, Desi tidak mengetahui secara pasti di manakah suaminya itu terkena gigitan nyamuk tersebut. ‘’Apakah di sini (rumahnya, Red) atau di tempat kerjanya, saya kurang tahu,’’ ujarnya.

Sepekan lalu, suaminya mengeluh badannya terasa panas. Saking panasnya, almarhum sering mencuci muka saat bekerja. Dua hari kemudian, suaminya mengeluh badannya lemas. Namun, saat itu panas badan sudah menurun. Sebaliknya, badannya terasa dingin. Desi kemudian memeriksakan suaminya ke puskesmas. Tetapi, pihak puskesmas belum dapat memastikan penyakit yang diderita suaminya. Permintaan uji laboratorium ditolak almarhum. Akhirnya, suami Desi menjalani rawat jalan. ‘’Setelah itu sudah agak mendingan, tapi badannya kembali panas,’’ terang perempuan kelahiran 1991 itu.

Dirawat jalan, kondisi almarhum tidak berangsur membaik. Desi yang khawatir akhirnya membawa suaminya ke RSUD Dr Hardjono, Rabu (16/1). Setibanya di rumah sakit, dia semakin khawatir. Sebab, rumah sakit berpelat merah itu sudah penuh. Sehingga dia melarikan suami ke salah satu rumah sakit swasta. Uji laboratorium di rumah sakit itu menyatakan suaminya DBD. Kabar itu membuat pikiran Desi semakin tak keruan. Apalagi saat itu suaminya juga kesulitan buang air besar (BAB). Pun, badannya lemas dan hanya bisa tergeletak di tempat tidur. ‘’Selain DBD, pihak rumah sakit juga mengatakan suami saya tifus,’’ ungkapnya.

Malam itu, Desi benar-benar tidak dapat tidur nyenyak. Beberapa jam setelah masuk ruang perawatan, suaminya kembali mengeluh. Saat itu, Desi panik karena suaminya kesulitan bernapas. Melihat tarikan napas yang berat, trombosit suaminta lantas dicek.

Meski tidak mengetahui secara pasti di angka berapa, Desi mendapat informasi dari dokter yang menangani bila trombosit suaminya turun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 04.30 Kamis (17/1), dari mulut suami mengeluarkan darah. Saat itulah sang suami menutup mata untuk selama-lamanya. ‘’Kami baru menikah tiga tahun, dan ingin punya anak. Tapi, Allah berkehendak lain,’’ ucapnya sembari sesenggukan menahan air mata.

Desi hanya bisa menceritakan kejadian pilu yang menimpa suaminya sampai di situ. Dia hanya bisa merunduk dengan air mata tak berhenti mengalir. Butuh beberapa menit untuk melanjutkan pembicaraan kembali. Namun, hanya satu dua kata yang bisa terucap dengan terbata. Dia pun berharap pemerintah setempat segera mengambil tindakan. ‘’Kalau ada fogging, mungkin bisa membantu. Jangan ada korban lagi,’’ tegasnya. *** (fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here