Janda 80 Tahun Rawat Tiga Adik Skizofrenia

150

30 TAHUN lebih Rusdi hidup dengan tangan kiri terikat rantai. Di ruang pengap beraroma tak sedap tanpa ventilasi udara. Di Dusun Godongan, Desa Purworejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Kisah pengidap gangguan jiwa (skizofrenia) ini mengingatkan tentang novel Seratus Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez.

NUR WACHID, Madiun

SIRAH tak ingat persis berapa usia Rusdi saat ini. Tak ada waktu untuk menghitung perkara itu lagi. Di ingatannya, usia adik kandungnya sudah lebih dari setengah abad. ‘’Dia gila sejak remaja,’’ tuturnya.

Sirah yang seorang janda 80 tahun itu tak punya cara selain membiarkan adiknya tetap hidup dalam belenggu pasungan. Sehari-hari, dia seorang yang setia mengurus dan memenuhi seluruh kebutuhan adik kandungnya. Mulai makan, minum dan membersihkan badan. ‘’Pernah saya lepas, tapi bikin tetangga ketakutan. Ada yang pernah dilempar batu sampai berdarah dahinya,’’ ujarnya.

Wasiat orang tua meneguhkan hati Sirah untuk merawat adik kandungnya hingga kini. Almarhum ayahnya mewanti-wanti Sirah agar Rusdi dirawat di rumah sendiri. Bukan ke rumah sakit apalagi panti rehabilitasi. Di rumahnya itu, Sirah juga harus merawat dua adiknya, Simah dan Sartun yang juga skizofrenia.

Sirah menceritakan bahwa dulu pernah mendapat pesan dari almarhum ayahnya untuk merawat Rusdi di rumah. Itulah yang membuat Sirah tidak mengirim Rusdi ke rumah sakit atau rehabilitasi. ‘’Ada yang ngobati datang ke sini,’’ terang Sirah. ‘’Yang dua nggak dipasung soalnya nggak ngamuk,’’ tegasnya.

Kepala UPT Puskesmas Geger Drg. Sunu Setyowati menegaskan Rusdi merupakan satu di antara 14 pasien pasung jiwa yang sedang ditanganinya. Dia tidak mengelak pemasungan merenggut kebebasan dan berpotensi memperparah kondisi pasien. ‘’Tapi kalau dilepas risikonya tinggi. Mengancam keselamatan orang lain,’’ katanya.

Sunu juga kesulitan meminta ijin keluarga untuk mengarahkan pasien dirawat ke rumah sakit. Keinginan itu selalu terbentur persoalan ekonomi. ‘’Hampir semua yang dipasung dirawat mbah-mbah. Untuk makan saja nunggu uluran orang sekitar,’’ tegasnya.

Karena itulah, Sunu tak bisa memaksakan upayanya ke sejumlah keluarga terkait. Meskipun sejatinya tak dibenarkan negara. Menengahi itu, Sunu akhirnya menempuh jalan tengah. Dengan jemput bola pemeriksaan dan pengobatan dari rumah ke rumah. ‘’Bagi penderita jiwa akut kami datangi satu-tiga bulan sekali. Bagi penderita ringan kami kumpulkan di kantor desa didampingi masing-masing keluarga,’’ bebernya.

Di Kecamatan Geger, jumlah pasien gangguan jiwa berat dalam perawatan Sunu tembus 151 pasien. Jumlahnya mengalami penurunan dari 2016 yang mencapai 270 pasien. ‘’Beberapa keluarga menolak diobati, padahal gratis,’’ pungkasnya. ***(fin) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here