Jaminah dan Yadin Pilih Menetap di Hutan

44

MADIUN – Kawasan hutan sekitar Waduk Widas, Saradan, menjadi lahan mengais rezeki bagi sebagian warga daerah tetangga. Jaminah, misalnya. Warga Nganjuk itu sudah hampir sepuluh tahun memanfaatkan lahan itu untuk menanam jagung. ‘’Di Nganjuk tidak punya lahan garapan,’’ kata Jaminah.

Jaminah bersama Yadin suaminya serta Eko Waluyo cucunya sengaja menetap di sana di sebuah gubuk sederhana. Akses menuju lokasi saat musim hujan seperti sekarang berlumpur. ‘’Bagaimana lagi, bisanya cuma seperti ini,’’ ucapnya.

Kondisi rumah yang ditinggali perempuan itu jauh dari kata layak. Hanya berdinding kayu dan tripleks. Atapnya seng dan lantainya masih berupa tanah. ‘’Kalau hujan bocor karena waktu masang atap ada yang tidak pas, tapi suami nggak bisa membetulkan,’’ tuturnya.

Nenek 68 tahun itu sengaja mencari nafkah di Saradan lantaran dekat dengan kampung halamannya. Sebulan sekali dia mudik ke Nganjuk untuk menengok rumahnya yang dibiarkan kosong. ‘’Anak-anak merantau semua,’’ katanya.

Kondisi rumah yang dia tinggali jauh dari kata layak. Hanya berdinding kayu dan tripleks. Atapnya seng. Sementara, lantainya masih berupa tanah. Kamarnya pun tak layak. ‘’Kalau hujan bocor, karena waktu memasang atap ada yang tidak pas, tapi suami saya nggak bisa membetulkan,’’ ungkap Jaminah.

Komper Perum Perhutani KPH Saradan Siwoyo tidak menampik bahwa cukup banyak warga yang memanfaatkan lahan Perhutani di sekitar Waduk Widas untuk bercocok tanam. ‘’Tidak ada izin khusus. Tapi, tetap ada surat pernyataan jika sewaktu-waktu lahan digunakan (oleh Perhutani, Red), harus bersedia pergi, tidak bisa menuntut,’’ ungkapnya. (fat/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here