Kasus Jamaah Haji Wafat dan Sakit di Tanah Suci Patut Dievaluasi

35
KEPULANGAN: Ratusan jamaah haji asal Kabupaten Madiun tiba di Pendapa Ronggo Djoemono, Senin (19/8).

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini patut dijadikan atensi dan evaluasi instansi terkait. Khususnya di Kabupaten Madiun. Setidaknya, lima jamaah mengalami gangguan kesehatan. Dua di antaranya meninggal dunia di Tanah Suci. ‘’Sedangkan tahun lalu kasus serupa tidak terjadi,’’ kata Kabid Penanggulangan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun Agung Tri Widodo Selasa (20/8).

Dua jamaah yang berpulang Mesilah, warga Desa Kepet, Dagangan, dan Suprapti, warga Desa Kedondong, Kebonsari. Keduanya wafat awal dan pertengahan bulan ini. Sedangkan Susmiati, warga Desa Banjarsari Kulon, Dagangan, dan Yakkub, warga  Desa Klagenserut, Jiwan, tertahan di Makkah karena sakit. Seorang jamaah dirujuk ke RSUD Caruban setelah tiba di tanah air. ‘’Bukan karena pelayanan. Gangguan kesehatan lima jamaah itu lebih karena faktor usia dan punya riwayat penyakit,’’ jelas pejabat yang ikut bertugas mendampingi jamaah haji asal Kabupaten Madiun ini.

Agung mengungkapkan, 255 dari 440 jamaah haji tahun ini masuk kategori risiko tinggi (risti). Ratusan jamaah itu ditangani dalam tiga pendampingan. Yakni, obat bagi yang punya riwayat penyakit, kursi roda untuk yang tidak kuat berjalan, dan orang lewat bantuan saudara. Kendati jumlah jamaah bertambah, pelayanan kesehatan tidak berkurang. Baik sebelum berangkat maupun selama di Tanah Suci. ‘’Bahkan tahun ini lebih baik karena calon jamaah ada pemeriksaan kesehatan jasmani,’’ ungkapnya.

Dinkes memastikan ratusan jamaah itu layak berangkat ke Makkah. Setelah melakukan istitaah kesehatan sebagai syarat utama pemberangkatan amanat Permenkes 15/2016. Hasil diagnosis penyakit, para jamaah dikonsultasikan kepada dokter puskesmas hingga dokter spesialis. Bahkan, ada pemeriksaan dokter di Embarkasi Haji Surabaya. ‘’Jadi, ada tiga kali pengecekan untuk memastikan kondisinya sehat dan layak berangkat,’’ tutur Agung.

Dia menyebut kondisi cuaca terbilang wajar. Kendati hujan sempat mengguyur Arafah dan Mina setelah panas menyengat. Kalaupun ada gangguan kesehatan hanya dialami beberapa jamaah. Itu karena dipicu kelelahan dengan penyerta penyakit yang telah lama diderita. ‘’Misalnya, Pak Yakkub yang ketika mau masuk Bandara King Abdul Aziz kondisinya lemas. Akhirnya ditinggal karena tidak memungkinan melakukan perjalanan udara,’’ ujarnya.

Agung menyampaikan, evaluasi lembaganya lebih ke pengawasan jamaah haji di rumah selama 21 hari. Kesehatan mereka dimonitor lewat dokter puskesmas masing-masing tempat tinggal. Hasil pengawasan tiga pekan itu akan dilaporkan ke Kemenkes. ‘’Kalau yang masih tertahan di-handle tim medis dari pemerintah pusat,’’ lanjutnya.

Terpisah, Kepala Kemenag Kabupaten Madiun Ahmad Sururi mengklaim pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar. Jamaah yang meninggal atau harus menjalani perawatan rata-rata karena berusia lanjut. Bukan karena kendala teknis dalam pelayanan tim medis. ‘’Kalau cuaca juga sama dengan tahun-tahun sebelumnya,’’ katanya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here