Jamaah Haji Tiba di Kota Madiun

78
KANGEN: Meski ada pagar pembatas, tak menghalangi luapan rasa kangen soerang jamaah haji kepada cucunya.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kepulangan 189 jamaah haji Kota Madiun molor Senin (19/8). Dijadwalkan tiba pukul 11.00, mereka baru menginjakkan kaki di Kota Madiun pukul 13.20. Keterlambatan itu lantaran jadwal penerbangan di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah sempat mengalami delay satu jam. ’’Persisnya karena apa kurang tahu, tapi itu hal biasa. Landing di Bandara Juanda Surabaya tepat jam 06.30,’’ kata Munir, kepala Kantor Kementerian Agama Kota Madiun.

Kedatangan jamaah haji Kota Madiun disambut haru keluarga. Banyak jamaah yang sudah ditunggu keluarganya di luar pagar pembatas. Mayoritas jamaah langsung memeluk dan mencium putra putrinya. Ada pula anak dari jamaah yang menangis ingin digendong.

Kakek-kakek mencium cucunya, kemudian memberikan barang bawaan dan oleh-oleh. Setelah itu berlanjut masuk ke dalam ruangan. Tampak sejumlah bapak dan ibu yang turun dari bus dibantu oleh petugas. Ada yang dibopong hingga naik ke lantai atas asrama haji, serta ada pula yang didorong dengan kursi roda dan alat bantu menuju ruangan lantai satu.

Munir menyebut, jamaah dalam kondisi baik. Sebanyak 189 jamaah pulang dengan kondisi sehat. Ditambah dengan dua jamaah yang akan menyusul datang di kloter selanjutnya hari ini (20/8). Meskipun cuaca di sana sempat panas dan sempat hujan deras, pelaksanaan rangkaian haji di Tanah suci tidak ada kendala berarti.  ’’Alhamdulillah berangkat utuh, pulang utuh,’’ ucapnya.

Jamaah haji Kota Madiun termasuk mendapat keistimewaan. Yakni, saat jamaah haji yang lain begitu antre di Bandara Jeddah, jamaah haji Kota Madiun tidak diperiksa satu pun kopernya dan juga masuk ke dalam ruangan yang istimewa.

Harminingtyas, salah seorang jamaah haji dari Kota Madiun, menyampaikan rasa syukurnya. Dia menuturkan bahwa di sana makanan berlimpah, minum juga disediakan di mana-mana. Sehingga hampir tidak ada kendala. ‘’Memang saat lempar jumrah yang harus ekstratenaga, tapi alhamdulillah lancar,’’ katanya.

Di sana dia mendapatkan pengalaman. Yakni, harus bisa mengendalikan ucapan-ucapan. Harmin menuturkan, saat di sana setiap perkataan itu langsung dibayar tunai. Contohnya saat dia hendak mengambil air panas. Harus berjalan keluar dari tempatnya dan jamaahnya berkumpul. Kemudian dia memberi tanda bahwa tempatnya kembali yakni tepat di tulisan Kabupaten Gresik. ‘’Saya bilang gampang, ternyata pulangnya nyari-nyari tidak ketemu. Jamaah dari Jabal Rahmah pun tidak kelihatan. Akhirnya saya bisa kembali ke pondokan itu agak lama. Jadi, memang di sana kota suci, jadi tiap ucapan harus lebih hati-hati,’’ ucapnya. (mgd/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here