Jalur Macet, Sujinarni Mendadak Ngasong Jus Buah

43

NGAWI – Sujinarni melihat peristiwa laka lantas bus Sugeng Rahayu kemarin (3/4) dari sudut pandang berbeda. Tak mau menyia-nyiakan barisan kendaraan yang macet, dia rela berpanas ria menjajakan jus buah.

SEJUMLAH petugas evakuasi spontan bersorak saat bangkai bus Sugeng Rahayu nopol W 7094 UZ berhasil diangkat dari dasar sungai. Sementara, warga yang memadati tempat kejadian perkara (TKP) menyaksikan proses evakuasi sibuk mengabadikan momen itu dengan ponsel pintarnya. ‘’Awas…awas,’’ teriak seorang petugas evakuasi mengingatkan warga yang kelewat dekat dengan bangkai bus yang ringsek.

Sementara, sejumlah pengendara dipaksa bersabar lantaran jalur macet selama proses evakuasi berlangsung. Ya, lalu lintas dari dua arah di tempat kajdian perkara (TKP) lumpuh total selama bangkai bus diangkat dari sungai ke badan jalan.

Di tengah kemacetan sepanjang tak kurang dari empat kilometer itu, Sujinarni tampak mondar mandir sembari menyangga nampan berisi jus buah. Dia menawarkannya dari satu kendaraan ke kendaraan lain. ‘’Es jus…es jus,’’ kata perempuan 52 tahun itu.

Setelah tawaran ke seorang sopir truk tan direspons, dia menuju sebuah mobil. Bibirnya bergerak-gerak dan jarinya menunjuk-nunjuk jus buah di samping kaca mobil yang tertutup. Sejurus kemudian, kaca terbuka. Satu cup jus diulurkan Sujinarni kepada pengemudi. Dia lantas melenggang ke kendaraan lain sembari memasukkan uang ke kantong celananya. ‘’Lima ribuan, lima ribuan,’’ ujarnya lantang.

Sebelum insiden bus Sugeng Rahayu nyemplung sungai itu terjadi, Sujinarni sekadar duduk menunggu pembeli di gerobak jus buah miliknya tak jauh dari TKP. Namun, kemacetan panjang siang kemarin memunculkan ide berjualan asongan. ‘’Mumpung macet, lumayan laris,’’ ujar warga Desa Karanggeneng, Kecamatan Pitu, Ngawi, itu.

Selama macet kemarin, Sujinarni menjadi lebih sering memasukkan beraneka buah ke blender. Mulai jambu sampai buah naga digilingnya bersama es batu. Warna cerah serta bulir-bulir es mencair di sisi luar cup pun menarik perhatian sejumlah pengemudi yang kehausan. ‘’Sudah laku 17 gelas ini tadi,’’ ujarnya.

Kata ngentol tak ada di dalam kamus ibu tiga anak ini. Kendati memungkinkan untuk meraup untung lebih dengan memanfaatkan momen, dia mematok harga normal. Satu cup gelas jus buah dijualnya Rp 5 ribu. ‘’Alhamdulillah, bisa untuk beli beras,’’ kata Sujinarni.

Lambat laun, kendaraan yang semula berderet-deret hingga berkilo-kilo meter telah terurai. Perempuan berkaus merah lengan pendek dan bertopi hitam itu lantas menuju gerobak jus miliknya. Nampan kosong dia masukkan ke ember cucian. Saku celana –kiri dan kanan– dirogohnya. Berlember-lembar duit kertas diluruskan, lalu dihitungnya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here