Jalan Sunyi Keluarga Parwoto Tagih Janji PKH

134

Tak terhitung sudah berapa kali Parwoto didata untuk mendapatkan program keluarga harapan (PKH). Hingga berganti tahun, keluarganya tidak kunjung mendapat bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut. Padahal, sekian tahun keluarganya pernah tinggal di kandang kambing sebelum mendapat bantuan pembangunan rumah permanen dari TNI. Beberapa hari lalu dia bersama istri dan satu anaknya ingin bertemu Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Sayang, tak ditemui.

————-

PAGI itu Parwoto membonceng istri dan anak semata wayangnya yang masih 10 tahun. Dari rumahnya di Desa Jonggol, Kecamatan Jambon, dikayuhnya sepeda angin dengan sisa tenaga tuanya. Jarak puluhan kilometer ditempuhnya perlahan dan tertatih. Sesampainya di Pasar Balong, sepeda angin itu dititipkan.

Setelah satu jam lebih, perjuangannya belum terhenti. Dia lantas menggendong anaknya yang terlihat kecapekan di bawah terik matahari. Hampir setengah jam dia berdiri di pinggir jalan. Kendaraan yang dinantikan pun tiba. Dia bergegas mengambil tempat duduk di minibus yang menuju Terminal Seloaji. Turun di alun-alun Ponorogo. Lantas menggendong buah hati berjalan kaki menuju kediaman orang nomor satu di Ponorogo. ‘’Ingin ketemu Pak Ipong,’’ kata Parwoto saat menanti di teras rumah dinas bupati Ponorogo.

Maksud Parwoto bukan untuk mengemis atau meminta belas kasihan. Sebagai warga desa, dia mengaku tak mampu baca-tulis. Bahkan, untuk mengeja namanya di KTP saja, tidak mampu. Pria kelahiran 1969 itu buta huruf. Tapi sebagai manusia, dia memiliki rasa. Keadilan, satu kata itulah yang sejatinya ingin disuarakan. Tapi, tidak dengan jalan aksi protes atau demonstrasi. Sebab, bicara saja dia tertatih-tatih. Dia ingin bertemu Bupati Ipong Muchlissoni setelah melihat tetangganya mendapat bantuan PKH dari pemerintah. Padahal, secara ekonomi, tetangganya itu dinilainya lebih mampu dari keluarganya. ‘’Hanya buruh tani, gak ngerti apa-apa,’’ ujarnya.

Tersebab keterbatasan itulah Parwoto ingin langsung menemui bupati. Dia tidak tahu harus mencari solusi di mana. Baginya hanya bupati yang merupakan pemimpin tertinggi di daerah yang mampu menyelesaikan masalah. Namun, harapan itu seolah sirna. Sebab, di luar angannya dapat bertemu orang nomor satu di Ponorogo sesuka hati, dia harus berhadapan dahulu dengan petugas satpol PP. Lantas harus berhadapan dengan ajudan bupati. ‘’Ingin ketemu Pak Bupati,’’ ulangnya dengan kata terbata-bata.

Hingga satu jam lebih menunggu di teras rumah dinas bupati, yang dinanti tak kunjung datang. Saat itu, Bupati Ipong Muchlissoni sedang memimpin rapat tentang pembahasan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang sedang mewabah. Karena itu, melalui satpol PP, Parwoto dan keluarganya diantar ke dinas sosial (dinsos) setempat. Petugas dinsos menyambutnya dengan lapang. Ditanya dan lantas didata. Namun, karena data penerima bantuan langsung turun dari Kementerian Sosial, Parwoto harus bersabar. Sembari menunggu susulan usulan yang dilayangkan ke provinsi. Parwoto tak bisa menyembunyikan raut wajah kecewa saat memasuki mobil dinsos setempat yang mengantarkan pulang kembali ke rumahnya. ‘’Katanya masih didata dulu. Tapi sudah berkali-kali didata,’’ ratapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here