Madiun

Jalan Ring Road Timur Diproyeksikan Pecah Kemacetan

ITS Beber Studi Kelayakan Jalan Ring Road Timur

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pembangunan Jalan Ring Road Timur (JRRT) memasuki babak baru. Studi kelayakan (feasibility study) rampung dipaparkan tim kajian dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di GCIO Diskominfo, Kota Madiun, Rabu (9/9).

Ketua Tim Feasibility Study (FS) ITS Surabaya Wahyu Herijanto menyebut pembangunan JRRT harus segera dilaksanakan. Berdasarkan analisis jaringan, banyak pengendara yang melewati keramaian di pusat maupun pinggiran kota. Baik dari selatan ke utara maupun arah sebaliknya. Potensi kemacetan yang diprediksi memuncak pada 2026 mendatang harus dipikirkan dari sekarang. ‘’Data traffic harian di tiga titik simpang yang merupakan titik temu dari berbagai ruas jalan menunjukkan volume kendaraan cukup padat,’’ katanya.

Pertama, simpang Dungus dilewati 41.016 kendaraan per hari. Pada jam sibuk, simpang ini sedikitnya dilewati 3.035 kendaraan setiap jam. Simpang Nglames sebanyak 59.684 kendaraan per hari atau 4.056 kendaraan tiap jam. Simpang Te’an dilewati 60.207 kendaraan per hari dan 1.179 kendaraan per jam. ‘’JRRT bisa memperlambat potensi kemacetan tersebut,’’ ujarnya.

JRRT juga membuka peluang ekonomi di sisi timur kota. Dari asumsi dalam analisis kelayakan ekonomi diketahui kenaikan harga tanah dan bangunan sebesar lima persen per tahun. Perkerasan kaku dengan umur rencana 30 tahun. Dengan nilai inflasi sebesar 2,81 persen dan interest rate sebesar 4,5 persen. Sementara biaya pemeliharaan jalan diperhitungkan hanya berkisar 1 persen di setiap dua tahunnya. ‘’Pembangunan JRRT yang dimulai pada 2025, manfaatnya langsung terasa di tahun berikutnya,’’ bebernya.

Diketahui, pembangunan JRRT sepanjang 9,7 kilomoter dengan lebar 25 meter itu bakal berdampak terhadap perluasan lahan dan bangunan di sejumlah kelurahan. Mulai Patihan, Tawangrejo, Kelun (jalan existing), Rejomulyo, Pilangbango, Kanigoro, Desa Tempursari (Kabupaten Madiun), Manisrejo, Munggut (Kabupaten Madiun), Banjarejo, Desa Sidorejo (Kabupaten Madiun), dan Kelurahan Demangan. Total luas lahan terdampak diperkirakan mencapai kisaran 268.071 meter persegi. Perinciannya, 219.764 meter persegi di Kota Madiun dan 48.307 meter persegi di Kabupaten Madiun. Sedangkan luas bangunan terdampak sekitar 40.909 meter persegi. Terdiri 34.851 persegi di Kota Madiun dan 6.058 meter persegi di Kabupaten Madiun.

Wali Kota Madiun Maidi menyatakan pembebasan lahan bakal bertahap dan dimulai tahun depan. Sedangkan pembangunannya telah diawali dari pintu masuk sebelah timur atau sebelah Terminal Cargo Madiun. ‘’Sekarang sudah kita mulai sehingga nanti tinggal melanjutkan. Kalau masih ada masukan-masukan akan kita tampung untuk kesempurnaan ke depan,’’ katanya.

Maidi memastikan pembangunan JRRT mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai efek ekonomi di Kota dan Kabupaten Madiun hingga analisis bencana serta dampak lingkungan. ‘’Kalau tempat ini dibangun seperti ini, arus airnya bagaimana, efek ekonominya bagaimana, ini sudah dihitung. Insya Allah akan membawa kebaikan bagi semua,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close