Jalan Hidup Richo Pranata Serupa Cinderella

39

MADIUN – Jalan hidup Richo Pranata seberuntung Cinderella. Beda cerita, namun sama tertolong oleh sepatu. Pemuda 23 tahun ini sukses merintis Clean ‘n’ Shine. Membersihkan sepatu dekil dan lusuh menjadi bersih kembali.

Celemek dan sarung tangan biru tak pernah jauh dari Richo Pranata. Hari-hari pria berkumis tipis itu disibukkan membersihkan beragam jenis sepatu. Dengan sikat dan cairan pembersih khusus, sepatu di tangannya terlihat baru lagi.

Baru setengah jam, konsumen datang silih berganti ke tokonya di Jalan Diponegoro. Richo tidak sendiri. Dia dibantu seorang pemuda sepantarannya. Di sebelah karyawannya itu, duduk seorang perempuan. ‘’Oh dia bukan istri saya  (menunjuk salah seorang perempuan berjilbab). Masih calon (calon istri),’’ kata Richo disambut gelak tawa gadis berkerudung hitam itu.

Clean ‘n’ Shine dirintisnya sejak akhir 2014. Ide men-treatment sepatu tercetus atas kerisauannya setiap kali melihat sepatu kotor tergeletak begitu saja. Richo pun rajin membersihkan sepatunya sedari kuliah. ‘’Enam teman satu kontrakan yang sering ngelihat saya bersihkan sepatu, akhirnya banyak yang nitip,’’ paparnya.

Singkat cerita, kepiawaian Richo membersihkan sepatu itu beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya, permintaan membersihkan merembet sampai sekitar kontrakan. Dari situlah, insting bisnis Richo mulai bermain. ‘’Saya mikir tuh, siapa yang nggak pengen punya sepatu bersih?. Apalagi kalau sepatunya ori (original). Ini peluang,’’ tukasnya.

Akhir 2014, Richo pun memberanikan diri membuka jasa membersihkan sepatu. Bungsu empat bersaudara ini sengaja membidik pasar di Kota Madiun. Sempat pesimistis di awal. ‘’Ternyata, di Madiun nggak kalah dengan kota lain. Malah ketemu kolektor sepatu ori sampai pernah juga bersihkan sepatu seharga Rp 16 juta,’’ kenangnya.

Selain membersihkan sepatu, Richo juga memperdalam wawasan seputar cara membedakan sepatu orginal dengan KW. Pengetahuan ini didapatkan sesama penggemar sepatu dari berbagai daerah. Juga, rajin mengulik referensi di internet. ‘’Kebetulan, saya juga fashion,’’ jelasnya.

Richo lantas unjuk kebolehan mendemonstrasikan singkat perbedaan sepatu ori dan palsu. Contoh sederhana bisa dilihat dari nomor produksi sepatu yang tertera di bagian dalam sepatu. Kalau original biasanya, dua digit belakang nomor produksi antara yang kiri dan kanan berbeda. ‘’Itu kalau sepatunya bisa dilhat secara fisik. Kalau dari gambar beda lagi banyak patokannya. Kadang customer itu nunjukkin  gambarnya,’’ jelasnya.

Sejatinya, Richo dulu sempat membuka cabang di Ponorogo. Sayangnya, partner bisnisnya kurang pas sehingga terpaksa ditutup. ‘’Masak sebulan cuma dapat tiga sepatu. Makanya saya tutup,’’ pungkasnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here