Jalan Arteri Nasional Masih Menyedihkan

205

MEJAYAN – Bagi pemudik yang melewati ruas jalan nasional Saradan, tampaknya harus lebih hati-hati. Mengapa? Struktur jalan arteri nasional itu tidak rata. Meski beraspal, namun bergelombang. Pengguna jalan harus berkonsentrasi penuh agar tidak terperosok saat melintasi jalan yang bergelombang itu. Jalan bergelombang itu sudah menjadi teman mudik para pemudik dari tahun ke tahun.

Sayang, tak banyak yang dilakukan oleh pemerintah pusat dengan kondisi jalan yang membahayakan sepanjang 16 kilometer itu. Yakni, mulai perbatasan Nganjuk–pertigaan A. Yani Mejayan. Perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara. Tambal sulam yang dilakukan tidak bertahan lama. Dalam hitungan bulan, jalan itu bakal kembali bergelombang dan berlubang. Bahkan, di beberapa titik, bahu jalan lebih tinggi dibandingkan jalan nasional tersebut. ’’Sudah ada pembenahan. Rutin, tidak hanya karena Lebaran,’’ kata pejabat pembuat komitmen (PPK) jalan nasional Wilayah Ngawi–Caruban–Kertosono Waskita Wicaksono.

Namun, selama masa angkutan Lebaran ini memang ada perbaikan khusus. Tak lain untuk memperlancar jalannya arus mudik para pengguna jalan. Bahkan, hingga hari H nanti, perbaikan tetap akan dilaksanakan. Namun, tidak menggunakan alat berat yang memakan badan jalan. Melainkan menggunakan alat kecil untuk menambal jalan yang rusak. ’’Selama Lebaran, kami menyiapkan aspal dingin untuk kondisi darurat,’’ terang Soni, sapaan Waskita.

Selain Saradan, ruas jalan Caruban–Ngawi kondisinya juga memprihatinkan. Ruas ini lebih panjang lagi. Yakni hampir 40 kilometer. Jalan alternatif yang menjadi penghubung Kabupaten Madiun dan Ngawi itu tak kalah membahayakan dengan ruas Saradan. Penanganannya juga sama, hanya sementara. Sebab, PPK hanya melaksanakan kegiatan sesuai dengan mandat pemerintah pusat. ’’Sebenarnya untuk perbaikan selalu kami ajukan, tergantung pada keputusan pemerintah pusat,’’ jelas Soni.

Di wilayah selatan bukan berarti kondisi jalannya baik-baik saja. Pada titik Geger dan Pagotan, misalnya, kondisi jalan di sana mudah sekali ambles. Tak heran jika tiba-tiba banyak lubang di jalan tersebut. PPK jalan nasional Mantingan–Ngawi–Maospati–Ponorogo–Madiun–Caruban sudah bergerak memperbaiki dengan tambal sulam. Sehingga tidak mengganggu para pemudik pulang ke kampung halamannya. ’’Kami sudah cek ke lapangan, aman untuk mudik,’’ jelas PPK jalan nasional Mantingan–Ngawi–Maospati–Ponorogo–Madiun–Caruban Novia Endhianata.

Selain kondisi jalan yang harus diperhatikan oleh para pemudik, pun kondisi jembatan. Jembatan Mlilir, misalnya. Ada sedikit retakan, namun sudah tertangani. Sehingga tidak membahayakan bagi pengguna jalan. Apalagi selama masa angkutan Lebaran, si Komo –sebutan kendaraan besar– dibatasi operasionalnya. Jembatan itu pun pasti akan aman lantaran tak perlu menopang berat berlebih. ’’Kami sudah memasang banner ketika masuk jembatan agar jaga jarak,’’ terang Novia.

Namun, dengan beroperasinya tol Ngawi–Wilangan bisa mengurangi beban di jalan nasional tersebut. Dengan demikian, kerusakan di jalan nasional sedikit bisa terkurangi. Apalagi jika pengemudi truk besar itu tertib aturan dengan membawa muatan sesuai dengan yang sudah ditentukan. Tentu kerusakan demi kerusakan tidak akan terjadi. Seperti pertigaan Buduran yang kini sudah sehat. Sebelum diperbaiki, kondisi pertigaan itu sangat mengenaskan. ‘’Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan jalan nasional. Pada prinsipnya bisa diminimalkan,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here