Jago Kampungan di Kampung Jagoan?

105

Oleh: Satmiko Supraptono

SAYA bukan generasi milenial yang sejak dalam kandungan sudah dikenalkan dunia digital. Bukan pula generasi yang hiburannya ada di gadget. Saya adalah generasi jadul yang sempat merasakan dunia serbamanual. Pun hiburannya buku ”paket”.

Kata paket sengaja saya beri tanda kutip. Sebab, memang bukan buku paket pelajaran. Melainkan paket novel yang biasa saya pinjam di kios persewaan untuk mengisi liburan sekolah saat tidak ke mana-mana. Saya sebut paket karena novel yang saya baca bisa berjilid-jilid. Bahkan  bisa puluhan hingga ratusan.

Novel cerita silat kesukaan saya. Mulai karya Asmaraman Sukowati alias Kho Ping Ho. Judulnya saja bejibun, apalagi jilidnya. Pun novel Api di Bukit Menoreh karya Singgih Hadi Mintardja alias SH Mintardja. Tak ketinggalan Pendekar Kapak Sakti Naga Geni 212 karya Bastian Tito. Semua novelis itu telah tiada.

Cerita silat karya Kho Ping Ho mengambil setting dunia persilatan di Tiongkok. Sedangkan SH Mintardja dan Bastian Tito mengangkat dunia persilatan lokal. Memang tidak semua karya mereka saya baca tuntas. Bahkan, jilidnya saja kadang tidak lengkap.

Namun, dari semua novel cerita silat itu secara umum kisahnya hanya beda tipis. Semua tak jauh-jauh dari tema perebutan harta, takhta, dan wanita. Harta misalnya. Mulai harta yang ternilai seperti harta karun dan warisan. Hingga harta yang tak ternilai seperti kitab pusaka dan benda-benda atau senjata pusaka yang sakti mandraguna.

Untuk takhta, mulai perebutan kekuasaan di internal perguruan hingga kekuasaan atas suatu wilayah. Baik politik maupun ekonomi. Sedangkan wanita sudah jelas. Di novel-novel itu selalu dibumbui kisah percintaan. Tak jarang rebutan wanita hingga berujung pertumpahan darah.

Tentu saja ada tokoh protagonis dan antagonis di dalamnya. Tokoh protagonis digambarkan sosok pendekar sejati yang bersahaja dan tidak umuk. Pembela kebenaran dan keadilan. Pekerja keras pantang menyerah. Ketika kalah dan dilecehkan lawan-lawannya dia mawas diri. Segera bangkit berlatih lebih keras. Hingga berbalik bisa memecundangi lawan-lawannya.

Sebaliknya, tokoh antagonis acap digambarkan sosok pendekar durjana. Pembela yang bayar. Jika kalah tidak mau introspeksi. Suka ngamuk. Apalagi jika diejek (baca: dikritik) pasti akan nggruduk dan ngroyok bersama gerombolannya. Norak alias kampungan. Kadang juga digambarkan sosok santun namun berhati bengis.

Namanya novel, karya fiksi. Sudah tentu semua kisahnya fiktif belaka. Tapi, jangan dikira semua itu tidak ada di dunia nyata. Bahkan itu juga berlaku hingga kini. Banyak pesilat dan pendekar yang terjerumus dalam pusaran perebutan tiga ta: harta, takhta dan wanita. Baik langsung maupun tidak. Grudak-gruduk akeh-akehan bolo. Hingga lupa diri untuk berprestasi.

Hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI cukup jadi bukti. Apa yang bisa dibanggakan para pesilat dan pendekar dari Kampung Pesilat (julukan Kabupaten Madiun) dan Kota Pendekar (sebutan Kota Madiun)? Satu medali perunggu dari Kampung Pesilat. Dari Kota Pendekar malah nirmedali.

Hasil ini patut dijadikan bahan evaluasi, introspeksi, dan mawas diri. Bukan hanya oleh para pesilat atau pendekar. Namun juga para stakeholder yang peduli dengan julukan atau sebutan yang telanjur tersemat. Sudah tentu tidak semua jagoan itu sekadar ingin berlatih bela diri. Pasti ada yang punya motivasi untuk berprestasi. Mereka inilah yang seharusnya lebih diopeni (baca: difasilitasi).

Menggelar berbagai event pencak silat hingga berskala internasional itu penting. Tapi, itu sekadar untuk memperkuat brand Kampung Pesilat atau Kota Pendekar. Tak kalah penting adalah mencetak prestasi. Apalagi hingga berskala internasional. Dunia akan lebih segan.

Dari sisi kuantitas, jumlah pendekar dan pesilat maupun perguruannya, patut berbangga menyandang Kampung Pesilat dan Kota Pendekar. Namun, dari sisi kualitas atau prestasi, adakah kebanggaan dari predikat mentereng itu? Haruskah mengubah julukan jadi Kampung Pegulat? Pun mengubah sebutan jadi Kota Thai Boxer atau Kota Jujitsan?

Lewat catatan sederhana ini, saya hanya ingin menantang para pesilat atau pendekar di Madiun. Memilih jadi tokoh protagonis atau antagonis seperti dalam novel cerita silat yang dulu suka saya baca itu? Tentu saya berharap semoga tidak jadi jago kampungan di kampung jagoan. Namun, juga bisa jadi jago di kampung tetangga hingga mancanegera. Pastinya jago dengan segudang prestasi.***

*Penulis Wapimred Radar Madiun

beralamat di mas_sadmiko@yahoo.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here