Iwan Warisi Bakat Dagang Ibunda Tersayang

198

GELORA usaha jual beli gadget di Madiun Raya tak bisa dipisahkan dari sosok Iwan Andik Purwantoro. Kesuksesannya tidak datang begitu saja. Selepas bisnis keluarganya terpuruk, dia bernadzar membawa keluarga seperti sediakala. Sempat menjadi sales sebelum dikenal sebagai pengusaha sukses.

PEBISNIS kelahiran Madiun 46 tahun silam itu berkaos dipadu celana kain panjang saat melayani pelanggan yang datang silih berganti. Beragam merk ponsel berjajar rapi menghiasi dinding toko elektronik Jalan dr Soetomo itu. Tak lama berselang, datang beberapa tamu bisnisnya yang sengaja ingin bertemu. ‘’Saat masih kuliah, saya menjadi sales mobil. Setelah lulus, bukan sales mobil lagi, tapi seluler,’’ terang bapak dua anak yang lulus kuliah 1998 silam itu.

Selama berbulan-bulan, Iwan banting tulang menjajakan produk selulernya. Dia sengaja keliling hingga Magetan, Ponorogo dan Ngawi. Jerih payahnya terbukti. Produk selulernya di Kota Madiun tercatat sebagai produk dengan penjualan tertinggi.  ‘’Pokoknya  saya gerak terus. Keliling, keluar masuk kampung,’’ tegasnya.

Seiring berjalannya waktu, Iwan mampu mengganti motor bekas dengan jenis baru. Yang sampai saat ini masih setia menemani garasi rumahnya. Menjadi barang legendaris dan bersejarah. ‘’Enam bulan setelah itu saya beli civic bekas,’’ kenangnya.

Puncaknya, 1999 Iwan memberanikan diri membuka tenant di Sri Ratu (saat ini Plaza Lawu). Kendati sempat meragu, gerai ponsel pertamanya cukup diminati. ‘’Saya buka tenant setahun setelah Sri Ratu didirikan. Teman dan keluarg banyak yang mendukung. Waktu buka (tenant) juga mudah, karena saya kenal dengan pengelolanya (Plaza Lawu). Apalagi waktu itu kompetitornya tidak sebanyak sekarang,’’ urainya.

Keputusan Iwan membuka tenant di pusat perbelanjaan modern itu membuahkan hasil. Iwan mampu memulihkan kondisi perekonomiann keluarganya. Sempat terpuruk saat dirinya duduk di semester empat. ‘’Sewaktu semester empat itu benar-benar jatuh. Dari situlah saya bernandzar akan bekerja keras dan membawa keluarga kembali seperti sedia kala,’’ terangnya.

Kepiawaiannya berdagang mewarisi ibunya. Dulu, ibunya dikenal sebagai pengusaha mebel. Iwan kecil terbiasa bekerja dan siap membantu jika diperintah ibunya. Mulai dari membeli bahan bangunan sampai ikut mengantarkan pesanan. ‘’Saya SMP sudah bisa bawa motor, bantuin ibu mengambil pembayaran sampai ke Maospati,’’ kenangnya.

Kini, Iwan memiliki 50 karyawan. Sebagian merupakan karyawan lama di mebel ibunya. Yang ikut merintis bisnis sedari nol. Suami dari Siti Nurani ini punya cara khusus meladeni karyawan. ‘’Saya ke mereka (karyawan) lebih ke momong,’’ terang Iwan.

Seiring berjalannya waktu, kompetitor sejenis kian menjamur. Mengikuti perkembangan teknologi menjadi kunci bisnisnya ikut berkembang. Sembari terus memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. ‘’Kalau hubungan dekat dan terjaga baik diberi kemudahan. Minta apa saja dikasih. Harus jujur dan selalu bersyukur,’’ ujarnya.

Masih segar dalam ingatannya ketika datang kepadanya seseorang yang menawarkan sebidang tanah miliknya. Padahal, kala itu tidak terlintas dalam benaknya membuka cabang baru. ‘’Akhirnya saya beli (tanahnya) karena saya anggap itu amanah,’’ ujarnya.

Kepada anak muda yang ingin berbisnis, Iwan berpesan hendaknya menjauhkan rasa gengsi. Itu penyakit yang harus dibuang jauh-jauh jika ingin menapaki tangga usaha sesukses dirinya. Semisal malu menjadi sales seperti yang dilakoni Iwan muda. ’’Buang jauh-jauh rasa gengsi itu,’’ pungkasnya. ***(fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here