Madiun

Itu Kolam Apa Waduk?

MADIUN – Pembangunan kolam pemancingan Watu Dakon Resort membuat berbagai kalangan geleng-geleng kepala. Mereka heran dengan kedalaman kerukan lahan di Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, yang mencapai belasan meter. Tidak terkecuali pelaku usaha jenis serupa di Kelurahan/Kecamatan Mejayan. ‘’Itu kolam apa waduk?’’ kata Suyadi, pemilik pemancingan Tirta Alam, kemarin (21/3).

Suyadi memiliki tiga kolam dengan luasan hampir sama sekitar 6×3 meter. Dua kolam di antaranya tingginya satu meter dengan tampungan air 80 sentimeter. Satu lainnya, jauh lebih tinggi 25 sentimeter dengan batasan diisi air satu meter. Ukuran itu disebut sebagai batasan paling umum tempat kolam pemancingan di berbagai tempat. ‘’Rata-sata satu meter. Saya belum pernah tahu pemancingan yang sampai lebih dari dua meter,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Menurut dia, ada tiga alasan di balik penerapan batasan tersebut. Pertama faktor keamanan. Para mancing mania tidak semuanya orang dewasa dan bisa berenang. Sehingga, tidak membahayakan bila ada yang jatuh terpeleset. Juga meringankan pembersihan dan perawatan kolam. Meski umumnya kegiatan itu dilakukan sebulan sekali. Alasan terakhir, ikan lebih banyak berkumpul. ‘’Kalau terlalu dalam, ikan kan larinya ke bawah, pancingan sulit kena,’’ beber pria yang sudah membuka usaha pemancingan sejak 18 tahun silam ini.

Berkaca dari alasan tersebut, Suyadi tidak bisa membayangkan keamanan pemancingan ketika kelak selesai dibangun. Sekalipun ukuran kolam diperkecil dengan kedalaman berkisar 4–5 meter. Sistem pengawasan harus maksimal demi menghindari hal tidak diinginkan. Sebab, risiko meningkat dengan ketinggian seperti itu. Dia juga penasaran dengan seberapa banyak jumlah pemancing yang bakal jadi pelanggan. ‘’Umpan bisa disambar juga lebih sulit karena ikan berkumpulnya di bawah,’’ tuturnya.

Berbeda konsep pemancingan Watu Dakon yang niatnya dibiarkan berupa tanah dilapisi lumpur. Dua di antara tiga kolam Suyadi, dasar permukaannya dicor. Menurut dia, pengecoran permukaan kolam tidak akan berpengaruh terhadap kondisi ikan. Baik itu lele, patin, gurami, nila, atau jenis lain. Mayoritas pemancingan juga menerapkannya. Hanya, bila berlumpur, menyulitkan proses perawatan. ‘’Lha, kalau dalamnya sampai lima meter dan berlumpur, butuh waktu berapa lama membersihkannya,’’ ucapnya sembari menyebut satu kolam miliknya tidak dicor karena alasan biaya.

Sementara itu, reaksi atas praktik pengerukan lahan pemancingan yang terindikasi beralih menjadi penambangan juga datang dari netizen. Seperti yang dihimpun dari kolom komentar unggahan berita-berita online akun Facebook Radar Madiun.

KPK mana KPK??? tulis pemilik akun Yuniar Ari Wibowo di berita Galian Bodong Berkedok Kolam Pemancingan yang dibagikan Selasa lalu (19/3). Reaksi lebih beragam di berita Satpol PP Jatim Terjun ke Lokasi Galian yang diunggah Rabu (20/3). Akun Guntur Wicaksono Sigit menulis Kolam pemancingan ikan hiu kayaknya. Akun lainnya seolah menaruh rasa curiga. Truk gedhe2 lewat mosok gak ada yg penasaran. Gosip yg jauh aja bisa terdengar ibarat dinding bisa mendengar & angin bisa berbisik. Tulis Wena.

Sebelumnya, Marsudi, pengawas pekerja proyek Watu Dakon Resort, menyangkal kasak-kusuk dugaan alih fungsi menjadi penambangan hingga komersialisasi hasil kerukan. Dalih kenekatan mengeruk lahan karena buta persyaratan perizinan. Sedangkan penggalian hingga belasan meter karena alasan perubahan site plan. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close