Isu Kiamat, MUI Telisik Kelompok Thariqah Akmaliyah

151

NGAWI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ngawi dihadapkan pada sebuah pekerjaan rumah (PR) pelik. Lembaga itu mendapat mandat dari pemkab setempat untuk menyelesaikan masalah hijrahnya 13 warga Bumi Orek-Orek ke Malang lantaran isu kiamat.

Ketua MUI Ngawi Halil Tahir mengatakan, pihaknya akan lebih dulu menelisik kejelasan kelompok Thariqah Akmaliyah yang diduga mendoktrin belasan warga itu agar eksodus ke Malang. ‘’Informasi yang kami dapatkan, beberapa warga berangkat karena isu seperti itu,’’ kata Halil kemarin (19/3).

Halil mengatakan, informasi yang diperoleh, 13 warga Ngawi itu mencari selamat ke Malang lantaran memercayai isu kiamat. Mereka berangkat dengan membawa berbagai perlengkapan. Malahan, ada yang sengaja menjual tanah hingga barang-barang berharga. ‘’Penyelesaian masalah ini harus menyeluruh,’’ ujarnya.

Kendati begitu, kata Halil, pihaknya tidak mau buru-buru melangkah. Melainkan terlebih dahulu menelisik ajaran kelompok yang berpusat di Desa Pulosari, Kecamatan Kesambon, Kabupaten Malang, itu. ‘’Masih perlu didalami. Kalau sudah jelas hitam-putihnya, baru bisa ditentukan langkah-langkah berikutnya,’’ tegasnya.

Halil mengatakan, thariqah bukan merupakan pengetahuan ilmiah. Melainkan, mengandung unsur rasional serta spiritual. Di dalam ajaran tersebut, lanjutnya, sesuatu yang disampaikan seorang guru mesti dipatuhi murid-muridnya. ‘’Untuk masalah ini, jangan-jangan ada miskomunikasi yang berakibat salah penafsiran, kemudian menjadi seperti itu,’’ tutur Halil.

Sekadar diketahui, kelompok Thariqah Akmaliyah berada di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin. Dari sana, dikeluarkan fatwa-fatwa yang berujung keresahan dan sejumlah warga berbondong-bondong hijrah ke ponpes tersebut untuk mencari selamat (selengkapnya lihat grafis).

Menilik struktur lembaga pondok pesantren pada umumnya, kata Halil, pesan dari seorang guru tersampaikan kepada jamaah setelah melewati beberapa tingkat. ‘’Takutnya, ada oknum penyampai pesan menambah-mengurangi sehingga dikhawatirkan jamaah menerima dan menyikapi tidak sesuai dengan apa yang disampaikan gurunya,’’ kata Halil. (log/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here