Isu Kiamat, MUI Ponorogo Kejar Sepak Terjang Katimun

119

PONOROGO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo tidak ingin gegabah menguak ajaran Thoriqoh As Sholihiyah (Musa As). MUI masih terus menggali fakta-fakta terkait ajaran yang menyebabkan puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang. Meskipun data transkrip wawancara pengakuan beberapa mantan pengikut ajaran tersebut telah dikirim ke MUI Jatim dan pusat. ’’Strategi kami masih tetap mengejar sepak terjang Katimun (penyebar ajaran di Ponorogo, Red),’’ kata Sekretaris MUI Ponorogo Ahmad Munir.

Dia menjelaskan, polisi secara formil telah melakukan penyelidikan terhadap Katimun. Meskipun Katimun membantah seluruh dugaan yang sempat dilontarkan, namun pendalaman terhadap sepak terjang Katimun dapat dilakukan MUI. Sudah tiga tahun Katimun menyebarkan ajaran tersebut di Ponorogo. ’’Secara formal di Malang juga tidak ada masalah,’’ ujarnya.

MUI mendapati ada yang berbeda dari rumah Katimun yang diwakafkan untuk keperluan kegiatan agama para jamaah. Mulai ukiran keris yang terdapat di gagang pintu hingga keberadaan dua bangunan panggung di halaman rumah. Bangunan tersebut merupakan Padepokan Gunung Pengging. ’’Kemudian foto-foto Gus Romli yang dipajang di teras berukuran besar. Meskipun saat ini sudah dilepas semua,’’ tutur Munir.

Hasil temuan itulah yang akan dipadukan dengan fakta-fakta yang digali MUI dari berbagai daerah. Sehingga nantinya benang merah apakah penyimpangan ajaran ada di Malang atau hanya di Ponorogo. ‘’Nah, hasil ini yang akan kami tunggu. Sambil di sini kami terus menggali fakta di lapangan,’’ terangnya.

Paling kentara, lanjut Munir, dampak sosial atas hijrahnya puluhan warga ke Malang. Mulai warga yang bersangkutan terancam kehilangan hak pilih, meninggalkan keluarga, hingga anak-anak kehilangan waktu belajar di sekolah. ’’Kami tetap yakin bukan ajarannya yang salah, karena ajaran thoriqoh itu pada dasarnya tidak ada yang menyimpang,’’ ungkapnya.

Pihaknya optimistis secara perlahan mampu menguak kejanggalan. Mulai alasan para jamaah menjual harta benda untuk hijrah ke Malang hingga mengajak anak yang masih sekolah tanpa seizin pihak sekolah. ‘’Kami tetap optimistis pelan-pelan dapat menemukan fakta di balik sejumah keganjilan atas kejadian ini,’’ ucap Munir. (mg7/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here