Isu Kiamat: Kabar Kepulangan Dua Keluarga Tak Benar

93

PONOROGO – Santernya kabar di media sosial (medsos) yang menyebut dua keluarga telah kembali dari pondok pesantren di Malang dimentahkan pemdes Watu Bonang. Di Di grup facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP) disebutkan keluarga itu pulang lantaran anaknya tidak kerasan. ‘’Saya belum menerima informasi, hingga kini belum ada yang kembali. Itu hoax,’’ kata Kades Watu Bonang Bowo Susetyo.

Bowo menegaskan, saat ini pihkanya sangat membutuhkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Sebab warganya sedang dilanda trauma. Jawa Pos Radar Ponorogo membuktikan kerisauan tersebut. Saat mendatangi desa itu, seluruh warga bersembunyi dan menutup rapat pintu rumah. Seolah ketakutan jika dimintai keterangan. ‘’Maka itu, kami harapkan agar berita ini dapat diredam,’’ harapnya.

Rupanya tidak hanya 52 warga setempat yang menjadi jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah. Bowo membeberkan sedikitnya ada 300-an lebih warganya yang mengikuti ajaran yang disebarkan Katimun di desa setempat. ‘’Semoga segera pulih, itu harapan kami. Karena desa kami terus-terusan menjadi sorotan,’’ ungkapnya.

Sebenarnya isu doktrin kiamat hanya dapat diungkap dari jamaah yang mengurungkan niat berangkat ke Malang. Namun warga setempat seluruhnya telah bungkam dan menghindar dari media. Termasuk pemdes yang hendak bertanya langsung kepada jamaah lain. ‘’Saya sendiri juga sulit bertanya pada jamaah. Seperti apa sebenarnya yang disampaikan Pak Katimun itu,’’ sambungnya.

Padahal informasi itu penting untuk mengurai benang kusut permasalahan tersebut. Hal itu disampaikan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo Ahmad Munir. Dia mengungkapkan bahwa fakta-fakta yang ada akan sangat membantu dalam menelusuri ajaran tersebut. ‘’Apakah ada motif ekonomi di baliknya? Apakah praktik dari ajaran tersebut yang menyimpang? Itu yang masih belum dapat kami telusuri,’’ kata Munir.

Dia berharap warga yang sekaligus jamaah dapat memberikan keterangan yang sebenarnya. Tanpa ada yang ditutupi. Sebab, beberapa fakta mengarah pada indikasi motif ekonomi. ‘’Memang dari hasil sementara baik kitab ataupun buku-buku yang digunakan tidak ada yang mengarah ajaran sesat. Bisa jadi praktiknya yang tidak sesuai,’’ lanjutnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz membeberkan ada 40-an thoriqoh yang masuk daftar muktabarah. Pihaknya memastikan ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah tidak masuk daftar tersebut. ‘’Kami sudah buka kembali daftar thoriqoh yang muktabarah, ajaran itu tidak ada dalam daftar,’’ kata Aziz.

Ditanya terkait penggunaan logo NU di lambang ajaran yang juga dikenal Thoriqoh Musa itu, pihaknya enggan berkomentar. Pihaknya mendukung penuh langkah MUI untuk terus melakukan kajian mendalam tentang ajaran tersebut, sekaligus praktiknya. ‘’Bagaimanapun MUI yang memiliki kewenangan apakah ajaran tersebut layak diajarkan atau tidak,’’ ucapnya. (mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here