Isu Kiamat: 13 Warga Ngawi Terdeteksi Eksodus ke Malang

1188

NGAWI – Polisi terus menelisik isu kiamat sudah dekat. Catatan korps baju cokelat, sedikitnya 13 warga Ngawi sudah boyongan ke Malang untuk mencari selamat. “Mereka menetap di Ponpes Falahih Muftadi’in Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kesambon, Kabupaten Malang,” ujar Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu kemarin (17/3).

Natal –sapaan akrab Pranatal Hutajulu- mengatakan, 13 warga dari berbagai kalangan dan usia itu berasal dari empat kecamatan. Yakni, Ngawi, Geneng, Kwadungan, dan Karangjati. ‘’Ada yang petani, pelajar. Ada juga yang satu keluarga. Ayah, ibu, dan dua anaknya dari Desa Dempel,” ungkapnya.

Satu keluarga itu adalah Nur Rohman, Dewi Rodlatul Mustofa, serta dua anaknya -Ahmad Najib Haidar dan Noval Al Hafid Al Faridzi. Mereka berangkat ke Malang dengan bus Rabu lalu 6/3) bersama seorang mahasiswa asal Bojonegoro. ‘’Pamitnya mau mondok ke Malang,’’ kata Sukarni Mustofa, mertua Nur Rohman.

Sukarni menuturkan, salah seorang jamaah pengikut Nur Rohman yang membatalkan diri bertolak ke Malang berkata kepadanya bahwa saat pengajian dikabarkan akan terjadi kiamat. Karena itu, jamaah diajak eksodus ke Malang untuk mencari selamat. “Sebelum-sebelumnya, kalau pengajian ke Malang itu tidak sampai lebih dua hari. Ini sampai sekarang belum kembali,” imbuhnya.

Sejumlah jamaah yang kerap mengikuti  pengajian yang dipimpin Nur Rohman memang membatalkan diri hijrah. Namun, sudah banyak yang telanjur menjual harta bendanya untuk persiapan berangkat. Mulai hewan piaraan sampai tanah.

Wit, warga Desa Klitik, Geneng, mengaku dirinya sama sekali tidak tertarik untuk hijrah ke Malang. Sebab, dia menganggap aneh ajaran yang sempat diketahuinya saat di Malang. ”Pernah sebelumnya ikut pengajian di Malang. Ikut-ikutan orang-orang. Tapi aneh, masak pengajian disuruh nyemplung blumbang,” katanya. (mg8/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here