Istri Pencipta Hymne Guru Terancam ‘’Terusir’’ dari Rumah

1273

MADIUN – Gundah gulana dirasakan Ignatia Damijati. Istri almarhum Sartono, pencipta Hymne Guru, itu siap-siap angkat kaki dari rumah yang ditempatinya sekarang. Sebab, tanah dan rumah kepabron milik orang tua Sartono di Jalan Halmahera 98, Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo, itu akan dijual ahli warisnya. ’’Setelah Idul Fitri ada yang izin menempel banner bahwa rumah dan tanah dijual,’’ kata Damijati ditemui Jawa Pos Radar Madiun kemarin (30/1).

Pada pengumuman itu tertulis Dijual, rumah dan tanah ini, tanpa perantara. Juga dicantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Menurut Damijati, yang menyuruh memasang banner itu adalah Sarwono, adik nomor empat mendiang suaminya. Pada saat Lebaran memang bertemu dengan Sarwono yang selama ini tinggal di Jakarta. Rencana penjualan aset keluarga itu juga diamini Santi, adik bungsu almarhum Sartono yang berada di Papua. ’’Saya bilang, kalau mau jual silakan. Ini kan rumahya mereka, rumah bapak ibunya Pak Sartono,’’ ucapnya.

Damiati hanya bisa pasrah. Memang dirinya tidak berhak atas tanah dan rumah warisan itu. Suaminya meninggal pada 1 November 2015. Selama menikah, Damijati tidak dikaruniai anak. ’’Soal jual beli tanah itu saya tidak mengurusi, di luar kewenangan saya,’’ ujarnya.

Dirinya sempat gerah ada kabar yang menyebutkan bahwa rumah tersebut dijualnya dengan banderol Rp 300 juta. Menurutnya, informasi itu salah kaprah. Dirinya sama sekali tidak mengurusi penjualan tanah dan rumah warisan tersebut. ’’Harga Rp 300 juta itu tidak benar,’’ tegasnya.

Pensiunan guru SDN 03 Klegen itu menambahkan, sejatinya rumah bernomor 98 itu menyimpan banyak kenangan. Setelah menikah dengan Sartono, keduanya menempati rumah warisan tersebut. Masih segar dalam ingatannya, di sudut kamar adalah saksi bisu mendiang menciptakan Hymne Guru. ’’Setiap selesai nulis, sama Bapak kertas itu disobek. Banyak kenangan di sini,’’ lirih pensiunan guru bahasa Jawa itu.

Sepeninggal almarhum Sartono, dirinya menempati rumah itu bersama Ratno, anak angkatnya. Usia anak angkatnya itu sudah 45 tahun. Untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari, Damijati hanya mengandalkan uang pensiunan golongan IV-b sebesar Rp 3.550.000. Ditambah pendapatan dari Ketoprak Krido Taruno. ’’Terakhir manggung diundang RRI,’’  sebutnya.

Kalau memang tidak menempati rumah itu, dirinya berencana menjual asetnya. Tebersit keinginan dirinya menjual seperangkat gamelan pemberian mantan panglima TNI Djoko Suyanto 2012 silam; saat dia dan suami diundang Kick Andy. Saat itu gamelan yang dibuat di Solo harganya sekitar Rp 45 juta. Namun, rencana itu sepertinya tidak akan dilakukan. ’’Tadi (30/1) saya baru tahu dari orang yang bertamu ke sini, dia cerita kalau Pak Djoko sudah tahu (niatan mau jual, Red). Saya nggak enak, jadi nggak akan saya jual,’’ tegasnya.

Mukana, salah seorang tetangga Damijati, mengatakan bahwa dirinya menjumpai orang yang sempat menempel banner tersebut. Dia masih saudara dari keluarga almarhum Sartono. Bahkan, dia sempat meminta dirinya yang membeli rumah  terseut lantaran sudah dianggap saudara sendiri. ’’Saya dan keluarga saya pernah tinggal di rumahnya Pak Sartono empat tahun. Waktu itu Bu Damijati dinas di Madura,’’ jelasnya.

Sarwono, adik kandung Sartono, tidak ingin  rumah tersebut dijual kepada orang lain. Sehingga meminta Mukana membeli rumah itu. ‘’Pak Sartono dan ibunya orang baik, suka membantu keluarga saya, masak iya saya beli (rumahnya, Red),’’ pungkasnya sembari berharap rumah itu tidak dijual. (mg2/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here