Istri Driver Ojol yang Tewas Idap Penyakit Jiwa Berat

1628

CARUBAN, Jawa Pos Radar Caruban – Penyidik Satreskrim Polres Madiun butuh waktu untuk mengorek keterangan Mira Hepi, 31. Sebab, saksi yang juga istri Darwi Susanto, 36, korban dugaan pembunuhan, itu memiliki riwayat penyakit jiwa. ‘’Hasil diagnosis dokter spesialis jiwa, tergolong berat,’’ kata Kholis Muhammad Hamdan, penanggung jawab rawat inap RS Jiwa Rejoso Nganjuk, Rabu (14/8).

Kholis mengungkapkan, Hepi menjalani pengobatan satu kali dalam tempo 20 hari. Terhitung 6 Juni hingga 25 Juni. Sebelum rawat inap di Ruang Anggrek, ibu satu anak itu pernah berobat di Puskesmas Rejoso lima bulan sebelumnya. Instansi layanan kesehatan yang memiliki klinik gangguan jiwa itu telah memberikan obat. Namun, tidak dikonsumsi rutin. ‘’Padahal, gangguan gelisah itu bisa muncul ketika konsumsi obatnya berhenti dua hari,’’ ujarnya dihubungi via telepon.

Dia menyebut, Hepi datang bersama Antok, sapaan Darwi Susanto, saat proses administrasi pendaftaran. Berdasar kesaksian petugas pelayanan kala itu, Hepi tiba-tiba menganiaya suaminya. Perbuatan spontan itu mengindikasikan stresor sedang dialami perempuan yang mengontrak di rumah toko (ruko) Jalan Panglima Sudirman, Pandean, Mejayan, Kabupaten Madiun, tersebut. Yakni, kebencian terhadap suaminya. ‘’Kemungkinan suami istri itu punya riwayat yang bisa menjadi pemicu stresor,’’ duganya.

Kendati demikian, Kholis enggan berbicara banyak ihwal sejauh mana penyakit kejiwaan Hepi. Termasuk pemicu datangnya gangguan mental itu. Dia beralasan  menjaga kerahasiaan pasien sebagai kode etik dunia kesehatan. ‘’Selain itu, ranahnya psikiater untuk menjelaskan,’’ imbuh Kholis.

Dia menyebut, Hepi mendapat perawatan umumnya pasien selama hampir tiga pekan. Tidak hanya pengobatan rutin, tapi juga kebutuhan makan dan perawatan badan. Kondisi kejiwaan perempuan itu sudah membaik ketika diperbolehkan pulang. Perilakunya normal yang ditandai bisa diajak interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Serta mandi tanpa perlu bantuan petugas. ‘’Artinya, sudah bisa rawat jalan,’’ jelasnya.

Persoalannya, penderita gangguan mental tidak bisa sembuh sepenuhnya. Konsumsi obat tidak boleh terlewat agar gejala penyakit tidak timbul kembali. Setelah lepas dari perawatan rumah sakit, rutinitas tersebut menjadi tanggung jawab keluarga. ‘’Mulai pemantauan hingga memberi perhatian,’’ tutur Kholis.

Ihwal kasus rajapati suami Hepi yang diperkirakan terjadi pada malam takbir Idul Adha Sabtu lalu (10/8), Kholis telah mengetahuinya. Beberapa hari lalu dua anggota Polres Madiun datang minta keterangan seputar penyakit yang diderita. Pihaknya terbuka seandainya dibutuhkan untuk memperlancar komunikasi antara penyidik dengan Hepi. ‘’Kami sampaikan apa adanya,’’ ujarnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here