Iseng Beternak Lebah, Mbah Pingi pun Meraup Banyak Untung

50

PACITAN – Dipercaya berkhasiat, banyak masyarakat menjadikan madu sebagai obat mujarab. Pun cairan yang dihasilkan lebah itu kaya protein. Hingga, tak sedikit masyarakat membudidayakan serangga penyengat ini. Salah satunya mbah Pingi.

Ribuan lebah berterbangan mengerubuti Sopingi. Sebagian menempel di wajah dan tangan. Tanpa hirau, laki-laki itu melongok satu persatu budukan alias rumah lebah yang terbuat dari kayu. Sayangnya, belum satu pun kotak yang digantung di rumah-rumahan sederhana itu siap diambil. ‘’Mungkin besok sore ada yang siap panen karena sudah ada sarang yang lumayan besar,’’ ujar peternak lebah ini.

Baru setengah tahun menggeluti peternakan lebah. Namun hampir 200 budukan dimiliki mbah Pingi, sapaannya. Sebagian besar telah terisi sarang dan siap dipanen. Awalnya, warga RT04/05, Dusun Godeg Kulon, Jetak, Tulakan, itu iseng membuat budukan untuk mengisi waktu luang. Tak disangka,  hasil dari dua budukan pertama yang dibuatnya cukup menggiyurkan. ‘’Dulu cuma dua, lalu saya minta keponakan untuk panen. Ternyata madunya banyak. Terus saya buat budukan lagi sampai sekarang,’’ terangnya.

Membuat dan memasang budukan butuh resep khusus. Selain harus jauh dari tempat panas seperti dapur. Juga harus rindang. Waktu memasang memilih hari yang pas sesuai hitungan Jawa. Terbukti, tak sampai sepekan budukan yang dipasang bakal diisi lebah yang bersarang. ‘’Kalau ngawur bakal lama, atau keburu jadi sarang semut,’’ tutur kakek tiga cucu itu.

Dalam satu kotak, satu hingga dua botol ukuran kecil madu dapat dipanen.. Bahkan saat musim bunga salam, madu yang dipanen bisa berkali lipat. Meski bunga salam lebih pahit ketimbang bunga lain, namun tak sedikit konsumen yang memburunya untuk obat mujarab. ‘’Ada yang suruh memberi pakan gula merah agar madunya manis. Tapi kalau saya tidak. Ini 100 persen madu asli,’’ papar pria kelahiran 63 tahun silam itu.

Meski produksi madunya melimpah, mbah Pinggi memilih tak memasarkannya. Biasanya pelanggan datang sendiri ke rumahnya. Untuk madu murni tersebut, dia mematok harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Bahkan, menjelang masa panen, beberapa pelanggan sudah booking. ‘’Kalau bedakan madu asli dan palsu bisa dicoba meneteskan di atas kertas. Kalau asli cairan tak akan tembus,’’ bebrnya.*** (sugeng dwi/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here