AdvertorialMadiunPendidikan

Internalisasi Nilai Pancasila pada Pembelajaran Jarak Jauh

DUNIA pada saat ini telah mengahadapi era disrupsi. Era disrupsi (Disruptive Era) didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana pergerakan dunia industri sudah tidak linier lagi. Perubahan yang sangat cepat dan fundamental sehingga mengacak-acak pola tatanan lama dengan inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Munculnya aplikasi seperti Uber dan Gojek merupakan salah satu contoh inovasi yang telah mendisrupsi sektor bisnis dan telah mengalahkan sistem transportasi konvensional yang sudah ada sebelumnya. Dunia pendidikan juga tidak lepas dari arus disrupsi ini. Munculnya sistem pebelajaran jarak jauh (Distance Education) dengan memanfaatkan kecanggihan internet  juga merupakan salah satu dampak dari era disrupsi. Lalu yang menjadi pertanyaan, akankah sistem pembelajaran online ini juga dapat memenuhi tuntutan kecerdasan (kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ)) yang harus ditanamkan kepada peserta didik untuk membentuk karakter yang sesuai ideologi bangsa Indonesia?

Ilustrasi AI (Foto: Android Pit)

Di sisi lain manusia diberikan fitrah selain berupa akal untuk berfikir juga qalbu untuk merasa. Oleh karena itu sekitar tahun 2010 mulai digelorakan kembali akan pentingnya pendidikan karakter. Dalam sebuah buku Bahan Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (2010) dinyatakan bahwa Pancasila merupakan landasan utama pendidikan karakter bangsa. Karakter ini diimplementasikan ke dalam satuan pembelajaran melalui upaya olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah raga yang diberikan pendidik untuk mencetak karakter bangsa yang disamping memiliki kecerdasan secara intelektual tetapi juga diimbangi dengan kecerdasan moral dan spiritual yang tinggi. Hal ini yang pada akhirnya dapat membentuk siswa dengan karakter kritis, jujur, amanah, peduli, santun dan bertanggung jawab. Menciptakan individu dengan kemampuan bersosial yang tinggi serta mampu melahirkan jiwa pemimpin yang berlandaskan nilai-nilai ideologis bangsa. Hal ini dapat dilakukan jika proses pembelajaran dilaksanakan secara langsung secara tatap muka. Pendidik dan peserta didik akan saling memahami karakteristik satu sama lain sehingga diantara keduanya terjalin ikatan batin sebagaimana orang tua dengan anak. Hal ini tidak bisa dirasakan ketika pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Pembelajaran hanya dilakukan untuk mengasah kemampuan kognitif peserta didik tanpa memperdulikan ranah afektif. Alhasil pendidikan hanya mampu menciptakan manusia-manusia cerdas tetapi kecerdasan tersebut justru untuk membodohkan orang lain karena tidak diiringi dengan moralitas yang baik. Hal tersebut sejalan dengan sebuah penelitian yang berjudul Dampak MOOCs terhadap Internalisasi Nilai Pancasila menuju Seabad Kemerdekaan, dalam penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa internalisasi nilai-nilai karakter yang sesuai dengan ideologis bangsa tidak secara penuh dapat diinternalisasikan melalui proses pembelajaran jarak jauh (Distance Education). Olah hati, olah rasa lebih sulit diinternalisasikan dalam sistem pembelajaran ini dikarenakan tidak ada nya tatap muka secara langsung antara pendidik dengan peserta didik. Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan nilai-nilai apa saja yang belum dapat diinternalisasikan ke dalam sistem pembelajaran online. Diantaranya pada ranah olah hati, nilai yang belum dapat diterapkan pada proses pembelajaran yakni nilai kejujuran, nilai keimanan dan ketaqwaan, empati. Dalam ranah olah rasa hampir seluruh nilai belum dapat diinternalisasikan yakni nilai kepedulian, ramah, santun, rapi, nyaman, saling menghargai, toleran, suka menolong, gotong royong dan mengutamakan kepentingan umum. Keseluruhan dari nilai tersebut sebenarnya merupakan ranah afektif yang selama ini digelorakan untuk membangun  revolusi mental pendidikan. jika nilai-nilai tersebut tidak dapat disisipkan pada proses pembelajaran maka peserta didik hanya akan mendapatkan nilai intelektual saja tanpa diiringi dengan sisipan nilai karakter yang membentuk pribadi individu. Akibatnya akan terbentuk pola pikir materialitas dan krisis akan nilai sensitivitas pada diri generasi muda penerus peradaban bangsa.

(Penulis: Nurhuda, Novanda Eka Saputra, Hendrika Betani, Elana Era)

( Tim PKM-PSH UNIPMA)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close