Inovasi Pelajar Ciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

92
PENGENDALI ANGIN: Wardatul Hasanah dan Tri Utami Lestari menunjukkan hasil temuan ilmiahnya.

Wardatul Hasanah, Tri Utami Lestari, dan Gilang Gilardan berhasil menciptakan pembangkit listrik tenaga angin. Jika dikembangkan, gagasan brilian ini bisa menjadi jawaban atas problem klasik pemadaman listrik.

——————

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

ANGIN yang berembus dari kipas angin membuat baling-baling turbin memutar. Wardatul Hasanah dan Tri Utami Lestari yang memperagakannya lantas mengaitkan kabel dari inverter dan peranti lainnya. Lampu berdaya listrik empat watt pun seketika menyala. Tak lama setelahnya, salah satu rangkaian kabel listrik dicabut. ‘’Jadi, saat listrik padam, lampu tetap menyala,’’ terang Warda, sapaan Wardatul Hasanah.

Lampu tetap menyala saat kabel listrik dicabut karena energi listrik yang dihasilkan dari pergerakan turbin tersimpan dalam aki. Dari sanalah, arus listrik tetap terhantarkan ke lampu. ‘’Ide pembuatan ini tercetus berkat faktor cuaca. Angin bertiup kencang akhir-akhir ini,’’ ujarnya. Ketiga pelajar MAN 1 Ponorogo ini pun tergerak memanfaatkan kondisi cuaca tersebut. ‘’Dengan cara memodifikasi turbin menjadi pembangkit listrik,’’ imbuh Warda.

Mereka sengaja memilih turbin karena dianggap lebih efisien. Murah dan ramah lingkungan. Mereka pun gelisah melihat sejumlah turbin di pasar yang berputar begitu saja tanpa dimanfaatkan energinya. Semakin besar anginnya, semakin besar pula energi yang bisa dimanfaatkan. ‘’Dayanya bisa diperbesar. Bisa memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. Tinggal menambah ATS (automatic transfer switch, Red)-nya,’’  terang remaja 18 tahun ini.

Hasil ciptaan ilmiah ini jelas tidak sesederhana yang diuraikan. Perlu waktu sebulan untuk membuktikan hasil penelitian. Sepanjang Mei kemarin berkutat di laboratorium dibantu guru pembina. ‘’Menuangkan ide dan menyusunnya menjadi karya ilmiah sampai merangkai alat-alatnya,’’ tuturnya.

Di tahap penelitian ini, komponen yang digunakan sebagiannya memanfaatkan bahan daur ulang. Seperti turbin, generator, travo, dan mikrokontroler. Namun, komponen lainnya harus dibeli di toko elektronik. ‘’Total habis biaya enam ratus ribu,’’ sebutnya.

Tingkat kesulitannya tatkala mengatur inverter dan segala komponen agar tidak korsleting. Mereka pun sempat terkendala bahasa saat setting pemrograman ATS. Secara bertahap tetap berhasil menggabungkan semua komponen. ‘’Gagal berkali-kali. Uji coba berkali-kali,’’ katanya.

Inovasi ini pun diganjar peringkat lima Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Dengan judul makalahnya Power and Energy System Competition. Dalam kompetisi di Universitas Negeri Malang (UM) itu, MAN 1 Ponorogo mengirimkan dua tim. ‘’Dari semua peserta, hanya kami berdua yang sekalian menciptakan alatnya,’’ pungkasnya. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here