Ini Upaya Polisi Antisipasi Tragedi Kuren Terulang

138

MAGETAN – Insiden minibus maut yang menewaskan tiga penumpang di Dusun Kuren, Desa Dadi, Plaosan, Minggu lalu (22/4) haram terulang. Polisi meminta pemkab menambah infrastruktur keamanan di jalur menuju kawasan wisata Telaga Sarangan.

Kasatlantas Polres Magetan AKP Hankie Fuariputra menyatakan, pihaknya sudah melayangkan surat kepada dinas perhubungan (dishub) untuk menyediakan guard rail. Peralatan berupa besi atau baja panjang sebagai pagar pengaman itu diminta dipasang di tepi tanjakan Dusun Kuren.

Pihaknya juga meminta dishub memasang di sejumlah titik rawan kecelakaan lalu lintas (laka lantas) lainnya di sepanjang jalur Sarangan. ‘’Terutama tanjakan dan belum dilengkapi pagar pengaman,’’ ujar Hankie kepada Radar Magetan kemarin (24/4).

Dia menuturkan, adanya guard rail bisa menekan potensi kendaraan terjun bebas ke jurang. Baik akibat mengalami rem blong maupun melaju mundur ketika tidak kuat menanjak. Berdasar gelar olah tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Kuren, pihaknya mendapati pembatas antara badan jalan dan area persawahan hanya berupa delineator.

Pembatas berupa tiang besi yang dipasang berjarak itu diduga tidak kuat menahan laju minibus usai gagal menaklukkan tanjakan Kuren. ‘’Kalau pagar kan juga bisa lebih terlihat oleh pengguna jalan ketimbang tiang,’’ katanya.

Kabid Angkutan dan Keselamatan Transportasi Dishub Magetan Sungkono menyebut, tidak lama lagi bakal datang guard rail sepanjang tiga ribu meter. Fasilitas penunjang keamanan itu diakomodasi Dishub Jawa Timur lantaran jalur Sarangan merupakan jalan provinsi.

Sebetulnya, kata dia, pengadaan guard rail sudah dikomunikasikan dengan pemprov tahun lalu. Pihaknya menyadari bila jalur Sarangan yang topografinya naik turun dan menikung rawan terjadi laka lantas. ‘’Terutama laka lantas tunggal,’’ ujarnya.

Sungkono menuturkan, guard rail sepanjang tiga kilometer itu bakal dipecah penempatannya. Selain di Dusun Kuren, alat itu bakal dipasang di sejumlah titik di jalan raya Sarangan–Tawangmangu. Pihaknya sudah melakukan pemetaan titik rawan jalur yang berbatasan dengan jurang. Baik yang memiliki ketinggian satu meter maupun hingga tiga meter.

Wilayah Mojosemi, lanjut dia, bakal dipasang guard rail paling banyak. Sebab, selain karena belum ada pengamannya, lokasi itu paling sering terjadi insiden kendaraan roda dua maupun empat masuk jurang. ‘’Belum bisa dipastikan kapan tibanya. Itu tergantung dari pemprov,’’ paparnya.

Dia menambahkan, kekuatan delineator sebagai pengaman sejatinya sudah cukup. Sebab, ditanam hingga kedalaman satu meter. Hanya, dalam insiden Dusun Kuren, alat itu patah karena besarnya kendaraan yang menghantam, ditambah ada beban muatan penumpang.

Bedanya, kata Sungkono, jika delineator ditanam dengan jarak masing-masing sekitar 1–2 meter, guard rail sudah menyatu layaknya pagar. ‘’Ketika pada satu titik guard rail terkena dorongan, pada titik lain bisa ikut menahan benturan tersebut,’’ tandasnya. (cor/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here