Ini Kata Psikolog soal Lukki Cahyono yang Hidup Menyendiri

551

MADIUN – Mengasingkan diri membuat keluarga Lukki Cahyono sulit bersosialisasi dengan lingkungan baru. Berpegang teguh pada pemikiran konservatif karena telanjur nyaman itu juga memengaruhi psikologi Ian Denis Ramadhani ketika beranjak dewasa kelak. ‘’Secara tidak langsung anak akan mengikuti kebiasaan orang tua,’’ kata psikolog David Ary Wicaksono.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun itu tidak heran bila Ian sulit bersosialisasi dengan teman kelasnya. Sebab, di rumahnya tidak memiliki tetangga yang menjadi lawan bicara. Komunikasi yang terbangun hanya dari orang tua dan binatang peliharaannya. Bila berkepanjangan, bocah lima tahun itu bakal sulit bergaul dengan orang yang belum dikenal. ‘’Begitu juga dengan orang tuanya, karena rutinitasnya itu-itu saja,’’ ujarnya.

Hal itu, tegas David, tidak akan terjadi bila pendidikan Ian bagus. Orang tuanya bisa menyekolahkan ke jenjang SD hingga SMA. Dia mulai berpikir dan memahami kondisi hidup. Bersumber pengetahuan diajarkan guru dan interaksi temannya yang hidupnya jauh lebih baik. Ian juga memungkinkan mengubah pandangan orang tua. Mengajak memulai hidup di tempat baru. ‘’Tentunya belum bisa terjadi sekarang karena anaknya masih TK. Saat ini, hanya pemkab yang bisa menangani,’’ paparnya.

Menurut David, keputusan Lukki mengasingkan diri karena memang inisiatif sendiri. Juga, alasan mendekatkan dengan lahan pangannya. Dia pun ragu bila ada pemicu di lingkungan tempat tinggal yang lama. Ditandai dengan terbukanya menerima kehadiran orang lain yang bertamu ke rumahnya. ‘’Kalau ada masalah cenderung tertutup dengan orang luar. Tapi, untuk kepastian alasan, harus dilihat dari sejarahnya,’’ tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun dr Soelistyo Widyantono juga mengkhawatirkan aspek kesehatan. Hidup di tengah keterbatasan cahaya karena ketiadaan listrik membuat mata menjadi tegang. Sebab, otot mata menyesuaikan intensitas cahaya. Bila terlalu redup, harus bekerja keras dan kesulitan fokus. Mata menjadi lebih mudah lelah, kering, dan gatal karena intensitas berkedip berkurang. ‘’Kalau kondisi itu berlangsung terus-menerus, berpotensi rabun jauh,’’ ungkapnya.

Begitu juga dengan mandi di sungai, bisa terkena penyakit kulit dan diare. Sebab, banyak kuman yang mungkin terbawa aliran air. ‘’Sudah sejak lama, mandi di sungai tidak diperbolehkan lagi. Karena bukan itu peruntukannya,’’ tegasnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here