Ini Empat Kelurahan Rawan Banjir Hasil Pemetaan BPBD

60

MADIUN – Ancaman bencana banjir mengintai warga Kota Madiun sepanjang musim hujan ini. Khususnya bagi mereka yang tinggal di pinggir daerah aliran sungai (DAS). Kendati begitu, sejauh ini air kiriman dari daerah tetangga masih bisa tertampung.

Namun, bila volume air turun dalam jumlah besar, bencana banjir bisa saja merendam rumah penduduk. ’’Sebagai bentuk antisipasi, kami menganggarkan alokasi dana (bantuan kebencanaan) sebesar Rp 250 juta,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Agus Hariono.

Dia mengungkapkan, anggaran itu digunakan untuk membeli makanan siap saji bagi warga yang terdampak banjir. Juga diperuntukkan warga yang terkena musibah kebakaran dan puting beliung. ‘’Mekanisme pemberian anggaran itu bergantung dari nilai kerugian yang ditanggung oleh warga terdampak bencana,’’ ujarnya.

Hanya, kata Agus, proses pengajuan pencairan anggaran bantuan kebencanaan itu berdasar usulan dari kelurahan. Bentuknya berupa surat pemberitahuan apabila terjadi bencana dan menyebabkan rumah penduduk rusak. ’’Surat itu langsung ditujukan ke wali kota. Dalam surat juga harus mencantumkan besaran nilai kerugian,’’ terangnya.

Dari hasil pemetaan BPBD, terdapat empat kelurahan rawan banjir. Meliputi Pilangbango, Tawangrejo, Kelun, dan Rejomulyo. Kendati begitu, banjir yang melanda Kota Madiun sepanjang 2018 belum tergolong besar. ‘’Pada 2018 telah terjadi tiga kejadian banjir. Itu pun tidak terlalu parah,’’ sebutnya.

Diakuinya, kondisi topografi Kota Madiun berada pada daerah cekungan. Sehingga ketika ada kiriman air dari Kabupaten Madiun, banjir langsung melanda wilayah kota. Faktor lainnya adalah tinggi permukaan sungai lebih tinggi dari saluran air yang ada. ‘’Dengan demikian, perlu banyak pompa air untuk membuang air dari saluran ke sungai,’’ beber Agus.

Saat ini jumlah pompa air di Kota Madiun ada delapan unit. Satu unit milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, sedangkan tujuh unit lainnya milik dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR).

Beberapa mesin pompa air milik pemkot itu disiagakan di Gang Pancasila, Nambangan Lor; Jalan Kaswari; Jalan Pandan; dan Kelurahan Pangongangan. Tiap pompa air memiliki kemampuan menyedot yang berbeda.

Misalnya, mesin pompa di Jalan Kaswari mampu menyedot air sampai 800 liter per detik. Sedangkan, pompa air di Gang Pancasila bisa menyedot air hingga 1.000 liter per detik. Kemudian, pompa air di Jalan Pandan mempunyai kemampuan daya sedot air sampai 1.500 liter per detik. ‘’Di luar itu, kami juga siagakan empat unit pompa air penyedot (kapasitas kecil) yang digunakan untuk mengatasi banjir di rumah-rumah penduduk,’’ jelas Agus. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here