Madiun

Diduga Dijadikan Lokasi Prostitusi, 47 Lapak di Pasar Muneng Dibongkar

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Sebanyak 47 pedagang Pasar Muneng, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, kehilangan tempat mengais rezeki. Kamis (8/8), petugas gabungan membongkar lapak-lapak di salah satu los pasar itu. ‘’Tidak apa-apa karena sudah menjadi keputusan pemerintah,’’ kata Ratemi, 50, salah seorang pedagang di sela pembongkaran oleh petugas satpol PP dibantu Polri dan TNI itu.

Pemkab membongkar puluhan kios yang rata-rata berukuran 2×2 meter itu lantaran dianggap menyalahi aturan. Selain jadi hunian, warung ilegal di atas aset pemkab ini ditengarai jadi ajang prostitusi. Ratemi menepis semua itu. Lapaknya terbuka, tidak tertutup seperti pedagang lainnya. Sedangkan praktik esek-esek, pekerja seks komersial (PSK) yang datang dibawa keluar kompleks pasar oleh pelanggannya. ‘’Dibawa ke sawah,’’ ungkapnya.

Ratemi menyebut, lapak dagangnya sudah ditempati sejak 30 tahun lalu. Warga Desa Muneng ini termasuk kalangan pertama penghuni los yang ketika ditempati sudah beratap genting. Selalu pulang dan tidak pernah tidur di pasar selama puluhan tahun berjualan. Kendati lapaknya baru tutup pukul 01.00 dini hari. ‘’Yang menetap di sini orang luar semua. Hanya enam warga asli Muneng,’’ paparnya.

Dia menambahkan, barang dan perabotan dagang tidak ikut dibongkar petugas. Peralatan itu sudah dikeluarkan dari los, dua hari sebelum eksekusi. Dia akan tetap berjualan pasca penertiban. Memanfaatkan ruang kosong antara los yang ditertibkan dengan salah satu los legal. Tanpa atap penutup. Tidak akan kepanasan karena berjualan sore hingga malam. ‘’Kan hanya sementara sampai nanti dibuatkan tempat berjualan dari pemkab,’’ ucapnya seraya menyebut pendapatan saat pasaran Wage Rp 90 ribu–120 ribu sedangkan hari biasa Rp 60 ribu–Rp 70 ribu.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Anang Sulistyono menjelaskan, pembongkaran adalah tahap akhir peringatan dari lembaganya. Sebab, akan ada penataan ulang tempat berjualan. Para pedagang sudah diminta membongkar sendiri beberapa waktu lalu. Juga sepakat tidak menghuni bangunan sampai proyek penataan direalisasikan tahun depan. Tapi, komitmen yang disaksikan muspika itu diingkari. ‘’Jadi, kami tertibkan, tapi sifatnya secara person,’’ katanya.

Anang menyebut, hanya enam dari 47 pedagang ber-KTP Kabupaten Madiun. Sisanya pendatang dari Nganjuk, Bojonegoro, dan Ngawi. Mereka semua dipulangkan ke daerah masing-masing diangkut truk Rabu malam (7/8). ‘’Pedagang asli akan difasilitasi tempat berjualan,’’ ujarnya.

Kepala Satpol PP Kabupaten Madiun Supriyadi menambahkan, pembongkaran merupakan kesepakatan bersama antara pedagang, warga sekitar pasar, dan  tokoh masyarakat. Sama-sama berkomitmen menghilangkan image jadi lokasi prostitusi. Juga mengembalikan fungsi pasar untuk berjualan. ‘’Bukan untuk tempat tinggal,’’ tegasnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close