Pacitan

Imbas Kemarau Panjang, PDAM Merugi Ratusan Juta

PACITAN, Radar Pacitan – Akhir-akhir ini layanan PDAM Tirta Dharma dikeluhkan. Terutama distribusi air yang kerap byarpet. Manajemen PDAM menyebutkan, selain kebocoran pipa, masalah ketidaklancaran pasokan terjadi karena debit air baku berada di zona merah. ‘’Sejak tiga bulan terakhir penurunan debit air yang paling parah,’’ kata Direktur PDAM Tirta Dharma Agus Suseno Kamis (21/11).

Kondisi itu disebabkan faktor alam. Yakni, musim kemarau yang relatif panjang. Jumlah penurunannya mencapai sekitar 100 liter per detik. Dampaknya perusahaan pelat merah tersebut merugi ratusan juta rupiah. ‘’Selama kemarau tahun ini kerugian yang kami alami sekitar Rp 50–75 juta per bulan,’’ ujarnya.

Agus mengungkapkan, pihaknya mempunyai 21 ribu pelanggan PDAM. Mereka tersebar di 10 kecamatan. Sebagian, pasokan di sejumlah wilayah lancar. Tapi, ada juga yang byarpet saat kemarau. ‘’Dari pemakaian rata-rata 10 meter kubik per pelanggan per bulan, pemasukan normal sekitar Rp 1,350 miliar,’’ ungkapnya.

Selama ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih pelanggan, pihaknya bergantung pada 18 sumber air baku. Meliputi tiga sumber air baku di Donorojo, Punung (3), Arjosari (1), Pringkuku (2), Sudimoro (1), Ngadirojo (1), Pacitan (3), Tulakan (2), dan Nawangan (2).

Namun demikian, Agus menyebut sumber air baku yang biasanya mampu disedot 40 liter per detik, sekarang hanya tinggal 20 liter per detik. ‘’Rata-rata debit turun 50 persen. Malah satu sumber air baku di Nawangan, Embung Koang, sudah benar-benar mati,’’ terangnya.

Dampaknya, sekitar 300 pelanggan PDAM cakupan Embung Koang tak terlayani air bersih. Sebagai gantinya, Agus menyatakan mereka tidak akan dikenai tagihan bulanan. Kondisi itu tentu berpengaruh pada realisasi pendapatan perusahaan. ‘’Target pendapatan sekitar Rp 15 miliar per tahun,’’ tandasnya. (den/her)

Kering Kritis, Manfaatkan Air Hydrant

AIR hydrant dimanfaatkan oleh BPBD Pacitan untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga selama kemarau. Hal itu terpaksa dilakukan karena jatah bantuan air dipangkas oleh PDAM. Dalihnya agar pasokan air ke pelanggan tetap terjaga.

Meski begitu, Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo menyatakan proses distribusi air bersih tetap berjalan sampai sekarang. Kendati pengambilan air dari sumber yang ada dikurangi. Dari sebelumnya enam kali sehari, sekarang hanya bisa dua kali. ‘’Mau bagaimana lagi, kondisi sekarang masih seperti ini,’’ katanya.

Di sisi lain, permintaan akan air bersih dari warga makin meningkat. Sementara armada yang pihaknya miliki terbatas. Hanya ada satu tangki. Mobilitas armada tersebut juga hanya mampu tiga kali mengirimkan bantuan air ke masyarakat. ‘’Sementara kami manfaatkan air hydrant milik dinas lingkungan hidup (DLH). Sudah kami ujilab-kan juga. Hasilnya, ada lima titik yang bisa digunakan untuk dropping dan terjamin kesehatannya. Debit air juga masih cukup,’’ terang mantan kabag ULP tersebut.

Meski demikian, Didik memastikan persediaan air yang ada saat ini masih cukup sampai Desember 2019. Persediaan itu berasal dari dua tangki sumber air baku PDAM dan beberapa tangki sesuai jadwal dari lima titik air hydrant. ‘’Sejak Oktober lalu, kami sudah mendistribusikan air bersih 445 tangki. Jumlah itu belum termasuk bantuan dari para donatur,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut, Didik menyebutkan tahun ini ada 45 desa yang terdampak krisis air bersih. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu. Saat itu, ada 38 desa yang mengalami kekeringan. ‘’Belum ada arahan khusus dari pimpinan. Yang jelas dropping masih terus dilakukan dan ditambah jumlahnya. Semoga hujan segera turun,’’ harapnya. (den/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close