Ikut Challenge Sebulan 11 Kali Nanjak ke Cemoro Sewu

55

Raja Tanjakan layak disematkan pada Agus Haryanto. Dia menjadi yang tercepat menggapai garis finis untuk  kelas lokal road bike upper 40. Catatan waktunya 34 menit 56 detik.

USAI bendera start KOM dikibarkan Sekda Magetan Bambang Trianto (BT), Agus Haryanto langsung menekan kuat pedalnya. Dia berusaha mencapai barisan depan yang dikuasai cyclist dari Banyuwangi Road Cycling Club (BRCC). Ada juga Juwanto Reza (Bike HAUS Cannondale), Gunawan Basso (Happy Monday).

Sampai di atas tanjakan Ngerong, Agus sejajar dengan Dwi Ratsongko (peraih podium ketiga kelas open upper 40). Suwadi (IPSM) dan Suyadi (PCC), dua pesaing di kelasnya sudah jauh di belakang. Dia memilih menjaga ritme kecepatan. Sampai akhirnya finis dan berhak menyabet gelar King of Mountain (KOM).

’’Kalau membayangkan pertama kali saya ke Sarangan dengan sekarang nggak menyangka bisa finis dengan catatan waktu yang cukup memuaskan buat saya,’’ kata Agus kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Masih segar dalam ingatannya lima tahun silam, persisnya di tahun 2014. Agus nekat gowes ke Telaga Sarangan bersama komunitasnya. Padahal, kala itu, pria 41 tahun ini terhitung pemula road bike dengan jarak jauh dan menanjak. Sebelumnya, pehobi bulu tangkis ini lebih dulu bersepeda jenis mountain bike (MTB). ’’Kalau olahraga malah saya dari kecil itu gabungnya klub bulu tangkis, terus teman di klub (bulu tangkis) saya tertarik mencoba, sekarang beralih RB,’’ ujarnya.

Kala itu, Agus merasa kagum dengan beberapa temannya yang mampu menaklukkan Sarangan dengan mulus. Sampai akhirnya, salah seorang temannya menyarankan Agus mengunduh sebuah aplikasi dari Play Store yang cukup populer di kalangan pesepeda. Aplikasi tersebut mencatat seberapa jauh jarak yang sudah ditempuh dan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tersebut. Pendek kata, membantu Agus mengukur kemampuan bersepedanya. ‘’Juga bisa melihat rekam jejak teman-teman lainnya, akan muncul di beranda,’’ paparnya.

Singkat cerita, aplikasi tersebut mengadakan challenge. Dalam satu bulan, peserta challenge harus bersepeda jalur menanjak, total elevasinya (ketinggian) jika diakumulasi minimal 21 ribu meter. Merasa tertantang, Agus langsung membuat jadwal gowes rute Kota Madiun–Cemoro Sewu, dan Kota Madiun–Telaga Sarangan. ’’Perhitungan dari aplikasinya itu,  Kota Madiun-Cemoro Sewu total elevasinya 1.900-an, jadi untuk mencapai target challenge itu saya harus 11 kali ke sana (Cemoro Sewu), ditambah ke Kota Madiun-Sarangan total elevasinya sekali nanjak disana (Sarangan) 1.300,’’ jelasnya.

Tak disangka, Agus berhasil mengumpulkan 26.212 meter dalam sebulan. Tahun lalu, kembali diadakan challenge sejenis. Sayang, untuk yang kedua kalinya dia gagal menduduki peringkat teratas.  ’’Itu kan pesertanya dari berbagai negara, kalau dulu di challenge pertama,  khusus untuk peserta challange dari negara  Indonesia saya urutan nomor dua,’’ ujarnya.

Sejak itulah, Agus merasa lebih percaya diri gowes. Dan ketagihan balap sepeda dengan rute menanjak. Sejumlah event dengan rute tanjakanpun dia libas. Ya, Agus merasa lebih enjoy dengan rute tanjakan. ‘’Lebih menantang, yang menyenangkan itu kalau sudah diatas bisa melihat pemandangan yang indah dengan cuaca yang dingin,’’ paparnya.

Biasanya untuk latihan,  Agus beberapa kali mencicipi tanjakan jalan lama menuju Desa Ngerong, Magetan. Dengan tingkat kemiringan rata-rata mencapai 17 persen. Dari semua tanjakan yang pernah dilaluinya, tanjakan tersebut dianggap yang paling berat dan menantang. Agus biasa kesana seorang diri. Lantaran tak banyak teman yang mau bersepeda ke jalur tersebut. ‘’Saya penasaran dengan tanjakan maut erek-erek Gunung Ijen, Banyuwangi sama tanjakan Suroloyo, Jogjakarta. Pengen membandingkan lebih berat mana dengan tanjakan lawas Ngerong,’’ bebernya.

Belakangan, Agus menularkan virus sepedaan ke buah hatinya. Dia mengajak Hanna Louisa,  putrinya berangkat sekolah bersepeda. Agus dengan road bike-nya bersepeda bersama dengan Hanna. ‘’Bukan boncengan, kami bawa sepeda sendiri-sendiri. Minggu lalu, saya ajak ke Dungus pakai sepeda trailer. Sepeda anak saya digabungkan dengan sepeda saya,’’ bebernya. ******(ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here