Magetan

Ikhtiar Seni Batik Ciprat Simbatan, Nguntoronadi

Tangan-tangan kreatif itu langsung mencipratkan adonan malam di sebentang kain. Bulatan kecil dan goresan memanjang membentuk meteor jatuh. Motif pada selembar kain tidak pernah sama dengan kain lainnya. Semua dicipratkan begitu saja, merdeka dari garisan pola dan canting. Ikhtiar seni pembatik difabel di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, itu semakin naik daun.

=================

CHOIRUN NAFIA, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

DUA pembatik hilir mudik menjemur kain yang dibentangkan di belakang kantor desa setempat. Keduanya tak bercakap lisan. Hanya berkomunikasi dengan isyarat tangan. Di sudut lain, perempuan berkerudung hijau tua mencipratkan kuas yang telah dicelupkan adonan malam. Setelah kain satu setengah meteran itu penuh dengan motif silang, kuas yang masih panas dengan adonan malam kembali dicipratkan membentuk motif bulatan. ‘’Ini tahap awal,’’ kata Endang, seorang pembatik difabel.

Sejak 2016, Endang aktif membatik. Saban hari mulai pukul 07.00-17.00. Penat kerap menggelayuti lengannya. Dia harus berulang kali mencipratkan adonan malam. Juga, memberi warna yang tekniknya serupa mengecat tembok. ‘’Capek, tapi saya senang membatik,’’ ungkapnya.

Terkadang, Endang masih mencanting selayaknya batik tulis. Mencanting mengikuti pola rupanya sulit. Tetapi, mencipratkan malam dengan kuas juga bukan pekerjaan mudah. Meskipun terlihat asal, tetap tidak boleh sembarangan. ‘’Tetap harus bagus hasilnya,’’ ujarnya.

Sebanyak 37 pembatik difabel di Simbatan tidak berkarya sendirian. Ada pendamping yang mengarahkan dan memasarkan hasil karya mereka. Mengarahkan difabel tentu harus memahami karakter masing-masing. ‘’Kalau sudah ngambek, bisa berminggu-minggu tidak masuk kerja. Padahal, pesanan sedang ramai-ramainya,’’ kata Deni Mustika Kusuma Wardani, seorang pendamping difabel.

Deni mengatakan, menjadi pendamping difabel harus sabar dan telaten. ‘’Harus pandai membujuk. Terkadang teman-temannya ikut bujuk agar masuk lagi. Sampai diiming-imingi hadiah,’’ tutur pendamping batik ciprat desa setempat itu.

Deni menambahkan, rata-rata disabilitas para pembatik pada tingkatan intelegensi, bukan kecacatan fisik. Seperti depresi hingga tunarungu-wicara. Dari 37 pembatik difabel itu, ada Bei yang terampil menyetrika. Gosokan setrikanya sangat rapi, bisa langsung dilipat dan dikemas. Ada juga Marsini yang rajin menjemur batik yang sudah diwarnai. Masing-masing dari mereka tahu tugasnya. ‘’Kami hanya mengarahkan,’’ kata perempuan kelahiran 1 Februari 1981 itu.

Disabilitas tak membatasi para pembatik untuk terus berkarya. Bahkan, rata-rata dari mereka terbilang rajin berproduksi. Dengan penanganan yang tepat, mereka bisa berdaya. ‘’Mereka boleh berproduksi di luar atau membatik ketika longgar. Ada yang ke sawah dulu sebelum ke sini. Tidak apa-apa,’’ ucap istri Sipin Utomo itu.

Pendampingan yang dilakukan Deni lebih dari hati ke hati. Lulusan teknik elektro Unipma Madiun ini sejatinya tak pernah mempelajari bahasa isyarat secara khusus. Keluwesannya menjalin komunikasi lebih karena kedekatan sehari-hari. ‘’Yang penting jangan sampai bicara kasar. Nanti ditiru,’’ terang ibu satu anak itu. ***(fin/c1)

Mereka Berkarya, Bukan Bekerja

SEDERHANA tapi mengena. Cipratan pembatik difabel dari Simbatan, Nguntoronadi, telah dilegalisasi sebagai salah satu batik khas Magetan. Dipayugi Surat Keputusan (SK) Kementerian Perindustrian dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan. ‘’Motifnya sederhana, tapi belakangan sangat ngehit,’’ kata Kadisperindag Magetan Sucipto.

Batik ciprat itu bahkan mewakili Indonesia mengikuti pameran di Thailand. Motif sederhana itu mendapatkan apresiasi positif di Negeri Gajah Putih. Sekarang mulai kewalahan menerima pesanan yang terus berdatangan dari dalam dan luar Magetan. Ikhtiar seni pembatik difabel memberi keunikan tersendiri. ‘’Ada value tersendiri karena yang buat teman-teman disabilitas,’’ ungkapnya.

Sejatinya, tujuan awal sekadar pemberdayaan. Namun, hasilnya melambung dari sekadar harapan memandirikan hidup difabel. Bagaimanapun, mereka tak bisa terus-terusan bergantung keluarga. ‘’Sekarang kondisinya berbalik. Mereka tidak bergantung lagi tapi sudah bisa membantu keluarga,’’ tegas Sucipto.

Pendampingan yang dilakukan tak sekadar menyentuh ranah produksi dan pemasaran. Juga, mengelola keuangan. Dipastikan setiap difabel mendapatkan bagian dari setiap lembar batik yang terjual. Satu lembar batik, keuntungan yang bisa dibagi mencapai Rp 30 ribu setelah dikurangi ongkos produksi. ‘’Lumayan untuk menambah perekomonian keluarga,” terangnya.

Sistem produksinya selama ini pun jauh dari disiplin hukum industri. Meskipun ramai pesanan, produksi harus menyesuaikan mood para pembatik. Tak bisa ditekan, tak bisa dipaksakan. Mereka berkarya, bukan bekerja. Itu tak pernah menjadi persoalan. Konsumen memahami kekhususan ini. ‘’Mereka tidak peduli apakah pesanan sedang ramai atau tidak. Kalau sedang mogok, ya tidak mau produksi,’’ ungkapnya.

Disiplin industri pernah coba disiasati. Demi memenuhi besarnya permintaan pasar. Batik cipratan dikerjakan orang normal. Tapi, hasilnya tidak seestetis cipratan pembatik difabel. Di lain tempat, para pembatik di Sidomukti dan Gebyok berusaha mengembangkan batik dengan teknik serupa. ‘’Hasilnya memang lain. Tergantung konsumen mau memilih dari mana,’’ tuturnya. (bel/c1/fin)

Batik Pakaian Rakyat, Tak Hanya Pejabat

‘’Batik ini milik masyarakat umum, bukan hanya ASN.’’ Bupati Magetan Suprawoto tak tergoda untuk mematenkan motif batik ciprat sebagai pakaian kedinasan. Kang Woto –sapaan bupati– tak ingin pamor batik ciprat berakhir seperti batik pring. Motif batik itu sangat identik dengan status ASN. Sampai masyarakat umum tak ada yang berani mengenakannya.

Produktivitas pun terbonsai. Pembatiknya hanya memproduksi sesuai pesanan instansi pemerintahan dan BUMD. ‘’Image ini harus dihapus. Fenomena pring sedapur sebagai batiknya PNS harus dihilangkan,’’ tegasnya.

Kang Woto ingin mengenalkan bahwa batik benar-benar menjadi kebiasaan masyarakat di Magetan. Jika hanya dikenakan pegawai pemerintahan, bagaimana iklim IKM-UMKM bisa tumbuh. ‘’Bukan hanya batik ciprat, tapi semua motif batik khas Magetan,” ungkapnya.

Magetan tak hanya melahirkan motif pring sedapur, sidomukti, dan ciprat, Simbatan. Masih ada batik parang selo khas Pragak, batik selo aji khas Selopanggung, batik udar welingan kenongomulyo, eco print, hingga batik kepolorejo. Semua motif itu memiliki keunikannya masing-masing. ‘’Industri batik harus tumbuh,’’ ujarnya.

Mantan sekjen Kekominfo itu sangat terbuka untuk mengembangkan batik Magetan. Salah satunya dengan mengadakan fashion show. Desainer lokal dihadirkan, sumbang wawasan, dan bantu memasarkan. Kang Woto juga berangan mem-branding batik khas Magetan. Rencananya dipusatkan di Sidomukti. ‘’Kalau bukan kita, siapa lagi,’’ ucapnya. (bel/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close