Ifan Seventeen Sempat Berpikir Dunia Berakhir

291

PONOROGO – Duka mendalam masih dirasakan Reifan Fajarsyah. Dyllan Sahara Puteri, istri tercintanya, berpulang selamanya. Vokalis Seventeen yang akrab disapa Ifan itu mengaku masih trauma. Terbayang dahsyatnya bencana tsunami yang menerjang saat dirinya manggung di Pantai Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, Sabtu (22/12). ‘’Tidak pernah menyangka sebelumnya,’’ kata Ifan saat ditemui di rumah istrinya.

‘’Tiba-tiba panggung roboh, saya jatuh, kemudian masuk ke air. Belum berpikir jika itu tsunami,’’ lanjut pelantun lagu Kemarin itu. Belum usai lagu ketiga dibawakan, tiba-tiba panggung roboh.

Tubuh Ifan sempat tertimpa atap panggung saat berada di dalam air. Tidak terhitung pula dia terbentur benda-benda yang digulung sapuan ombak dari Perairan Selat Sunda itu. Dia sempat berpikir, saat itu dunia telah berakhir. Kiamat. ‘’Atau, seperti mimpi. Benar-benar tidak tahu apa yang terjadi,’’ ujarnya.

Setelah terombang-ambing, Ifan baru menyadari bahwa dia sedang terhanyut air laut. Saat itulah, Ifan berusaha tetap tenang dan menahan napas. Dia pun mulai menyadari jika terjadi tsunami. ‘’Spontan berpikir, jangan sampai saya minum air laut. Sebisa mungkin berusaha,’’ tuturnya.

Tubuh Ifan semakin tenggelam, arus balik menyeretnya ke lautan. Dia merasakan perutnya seperti terikat benda berat. Karena itu, dia berusaha naik ke permukaan. Namun, tubuhnya justru semakin tenggelam dan terbawa arus yang begitu kuat. ‘’Rasanya seperti udah mati, benar-benar gak bisa bergerak,’’ ungkapnya.

Tubuhnya berputar bersama benda-benda dan ratusan orang lainnya. Napasnya semakin habis. Dia pasrah. Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkannya. ‘’Semangat sudah hilang. Energi sudah terkuras. Pasrah,’’ ucapnya.

Kesadaran Ifan pun mulai menurun. Hanya terdengar teriakan dari kejauhan. Saat itulah tangannya ditarik orang yang berpegangan ke kaki meja. ‘’Itu sadar lagi, kemudian semangatnya muncul kembali. Pegangan kaki meja,’’ jelasnya.

Baru bisa bernapas lega, tubuh Ifan kembali tenggelam oleh arus yang begitu kencang. Di saat itulah dia mulai menyerah. Tak berdaya dan kehabisan napas. Namun, dia tetap berusaha menahan agar tidak minum air laut. ‘’Berharap siapa tahu ada yang menolong saya. Entah perahu atau nelayan,’’ katanya.

Dalam keadaan itu Ifan kembali pasrah. Hati kecilnya berbicara, mungkin ajal segera menjemputnya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tubuhnya perlahan menuju ke permukaan. ‘’Tiba-tiba tangan saya menyentuh (benda) seperti bok yang mengapung,’’ terangnya.

Keajaiban itu pula yang membangkitkan semangatnya untuk menyelamatkan diri. Dia pun akhirnya dibawa ke bibir pantai. Saat itulah pikirannya seolah tak percaya. Tempat yang semula ramai teriakan, mendadak sunyi. Dia hanya melihat mayat bergeletakan. ‘’Ingat istri dan sahabat di Seventeen,’’ pungkasnya meneteskan air mata tak sanggup melanjutkan cerita. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here