Ide Reaktivasi Jalur Staatspoorwegen Rasional

9

MADIUN – Ide reaktivasi jalur kereta api Staatspoorwegen menjadi salah satu solusi pemecahan persoalan urban yang kelak bakal menimpa Kota Madiun. Yakni, kemacetan. Bagaimana tidak, Kota Madiun yang luasnya hanya 33,23 kilometer persegi kian hari kian dijejali kendaraan bermotor. Moda transportasi selain melalui jalan aspal patut menjadi pertimbangan. ’’Pertumbuhan roda dua dan roda empat itu cukup tinggi di Kota Madiun,’’ kata Kepala Dishub Ansar Rasidi kemarin (16/4).

Dewasa ini, lanjut Ansar, memiliki kendaraan bermotor boleh dikata mudah. Beberapa jenis kendaraan bermotor bahkan bisa didapatkan dengan DP nol rupiah. Pun, berbagai lembaga penyedia kredit sudah memberi begitu banyak kemudahan pada masyarakat. Kelak, lanjut Ansar, butuh kebijakan dalam mengurai persoalan tersebut. Sayangnya, pemerintah pusat pun tidak memiliki kebijakan taktis untuk masalah itu. ’’Semisal, membatasi kepemilikan kendaraan sesuai garasi, kebijakan semacam itu bisa (mengurai),’’ ujarnya.

Terlebih, Kota Madiun dicap sebagai pusat perputaran ekonomi di eks Karesidenan Madiun. Hal itu membuat banyak orang dari berbagai daerah acap datang dan pergi ke Kota Madiun. Pun, ide reaktivasi jalur mati Staatspoorwegen muncul sebagai salah satu solusi. Hanya, Ansar mewanti-wanti agar penggodokan kebijakan reaktivasi jalur yang mati di tahun 1983 itu harus matang. ’’Prinsipnya reaktivasi jalur kereta api itu harus ada kajian atau analisis yang benar-benar tepat. Kalau diajak berdiskusi, kami sifatnya terbuka,’’ kata Ansar.

Manajer Humas PT KAI DAOP VII Madiun Supriyanto mengatakan, jalur kereta api meliputi rel hingga sarana pendukung seperti jembatan atau perlintasan merupakan prasarana milik negara. Karenanya, menghidupkan atau mematikan suatu jalur merupakan kebijakan dari pemerintah. Dan jika merujuk pada besarnya nominal investasi untuk menghidupkan kembali suatu jalur, maka pemerintah pusatlah yang memiliki andil paling besar. ‘’Kalau pemerintah pusat dan daerah bisa satu komitmen, bukan tidak mungkin,’’ ujarnya.

Pun diakui Supriyanto, beberapa kali Dirjen Perkeretaapian Kemenhub telah menimang ide reaktivasi tersebut. Salah satu wacananya adalah membuat jalur kereta api baru hingga melalui Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) di Nambangan Lor, Manguharjo, lalu berlanjut sampai Ponorogo. Selain akses lalu lintas perkeretaapian, juga untuk keperluan studi API. ‘’Sejauh mana wacana itu, menjadi ranahnya Dirjen Perkeretaapian Kemenhub. Yang dibutuhkan untuk merealisasikannya adalah komitmen itu,’’ tukasnya. (naz/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here