Idap Darah Tinggi, Wirkadi Pilih Cari Mati

104

NGAWI – Kasus gantung diri bertambah lagi. Kemarin (18/12) giliran Wirkadi, warga Dusun Recobanteng, Desa Wonorejo, Kedunggalar, yang mencari mati dengan seutas tali. Kakek 80 tahun itu ditemukan ngendhat di kebun jati tak jauh dari rumahnya.

Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan. Pun, petugas medis tidak mendapati bekas kekerasan di tubuh Wirkadi. ‘’Berdasarkan keterangan pihak keluarga, sakit darah tinggi sejak tiga tahun terakhir,’’ kata Kasubag Humas Polres Ngawi AKP Eko Setyomartono.

Wirkadi ditemukan dalam kondisi menggantung dengan tali biru melilit di leher oleh seorang anggota keluarganya sekitar pukul 06.00. Wirkadi gantung diri pada batang pohon jati di kebun depan rumahnya. ‘’Penyakitnya selama ini sering kambuh,’’ imbuh Eko.

Terungkapnya aksi gantung diri itu bermula saat Parmi –istri Wirkadi– yang bangun tidur mendapati Wirkadi tidak berada di kamar. Parmi lantas meminta anggota keluarganya mencari sang suami. Pada saat bersamaan, cucu Parmi mengatakan bahwa tali jemuran sepanjang dua meter raib dari tempatnya.

Kepanikan keluarga Parmi akhirnya berujung temuan tubuh Wirkadi tergantung di pohon. ‘’Cukup sering kasus gantung diri akhir-akhir ini. Kalau tidak karena sakit berkepanjangan, ya karena faktor ekonomi,’’ papar Eko.

Data Polres Ngawi, Wirkadi merupakan pelaku gantung diri ke-8 selama kurun waktu November 2018 hingga kemarin. Sementara, total kasus ngendhat tahun ini menjadi 23. Melampaui kasus 2017 yang menyentuh angka 22. Sementara, pada 2016 tercatat sebanyak 19 kasus.

Kondisi depresi akibat sakit yang tak kunjung sembuh, disebut-sebut sebagai faktor utama pemicu aksi gantung diri di Bumi Orek-Orek. ‘’Depresi terjadi di masyarakat karena tuntutan hidup dan problem sosial. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah,’’ kata Ketua Komisi II DPRD Ngawi Khoirul Anam Mu’min.

Dia meminta pemkab tidak gagah-gagahan program alias berburu penghargaan semata. Sementara, fakta di lapangan masih banyak problem mendasar yang harus dibenahi. ‘’Mestinya program kesehatan seperti BPJS, kartu sehat, dan lainnya bisa terakses secara baik untuk mengurangi biaya pengobatan,’’ urainya.

Menurut Anam, meningkatnya kasus gantung diri juga berkaitan dengan minimnya pemahaman agama di masyarakat. Pun, butuh pembinaan mental supaya tidak ada lagi warga yang memilih jalan pintas bunuh diri. ‘’Selain peran pemerintah daerah, sudah saatnya MUI (Majelis Ulama Indonesia, Red) blusukan ke perkampungan,’’ pungkasnya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here