Ibadah Haji vs Transmigrasi

13

PADA hari Jumat tanggal 5 Juli 2019 dini hari, saya melapas jamaah haji Kabupaten Magetan sebanyak 462 orang untuk menuju Tanah Suci. Ada rasa haru melihat kebahagian para calon jamaah haji berkumpul di Pendapa Surya Graha untuk mengikuti prosesi keberangkatan. Belum para pengantar yang berkumpul di depan pendapa, sesekali melongok dipagar yang memang sengaja tidak diperbolehkan masuk.

Tidak heran kalau para pengantar memadati jalan di depan pendapa. Kalau setiap jamaah diantar oleh sepuluh orang saja. Berapa ribu malam itu yang memadati jalan dan alun-alun Magetan. Saya kira lebih dari empat ribu pengantar yang memadati tempat sekitar alun-alun. Bisa dibayangkan, begitu banyaknya yang mengantar. Ya memang sudah menjadi tradisi kita.

Kalau dilihat dan dirasakan, sebenarnya naik haji sekarang ini jauh lebih mudah perjalanannya dibandingkan dulu sekitar tahun 1970-an ketika masih naik kapal laut. Perjalanan haji memerlukan waktu cukup lama. Oleh sebab itu, diperlukan perjuangan yang sungguh lebih berat. Baik dari segi waktu, tantangan dsb. Saat ini hanya sekitar tujuh jam sudah sampai di tujuan yaitu Tanah Suci.

Namun bisa dipahami, yang diantar adalah keluarga terkasih. Kalau tidak bapak dan ibunya atau ibunya saja dan ada pula yang hanya bapaknya saja. Mengingat calon jamaah haji dari Magetan rata-rata sudah berumur. Malahan calon jamaah haji yang paling tua sudah berumur 90 tahun. Usia yang demikian sepuh (Ibu Djaja Djuri) dari Desa Kraton, Maospati. Tentu dalam menjalankan ibadah haji didampingi oleh keluarga yaitu putrinya. Sedang calon jamaah haji paling muda berusia 29 tahun. Calon jamaah haji dari Magetan yang berusia di bawah empat puluh tahun bisa dihitung dengan jari.

Kita semua tahu bahwa ibadah haji memerlukan fisik yang prima. Tentu juga syarat yang lain seperti materi. Sedang rata-rata calon jamaah sudah usia senja. Inilah yang menjadikan kekhawatiran semuanya. Termasuk keluarga yang mengantar tentunya. Juga saya sendiri yang kebetulan memberangkatkannya.

Mengapa rata-rata yang berangkat sudah usia. Memang lama tunggu jamaah haji di Indonesia demikian lamanya. Untuk rata-rata nasional saja 18 tahun lamanya. Artinya bila daftar sekarang harus nunggu berangkatnya 18 tahun yang akan datang. Kalau sekarang usia 50 tahun maka akan berangkat pada usia 68 tahun. Tidak heran bila malam itu di Pendapa Surya Graha yang berangkat sudah usia yang demikian senja.

Tentu setiap daerah lama tunggu untuk berangkat haji berbeda-beda. Paling singkat untuk lama tunggu yaitu provinsi Sulawesi Utara, Maluku dan Gorontalo. Adapun lama tunggunya adalah 11 tahun. Sedang lama tunggu yang paling panjang adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Adapun lamanya yaitu 39 tahun. Jadi bila warga Sulsel akan naik haji, dan sekarang baru daftar serta usia 50 tahun, maka akan berangkat pada usia 89 tahun. Sebuah usia yang sudah demikian sepuh untuk ukuran ibadah yang lebih mengandalkan fisik.

Bagaimana dengan lama tunggu di Provinsi Jawa Timur. Untuk di Jawa Timur rata-rata masa tunggu calon jamaah haji adalah 20 tahun. Jadi kalau mendaftar saat ini akan berangkat dua puluh tahun kemudian. Kalau saat ini berusia 50 tahun akan berangkat pada usia 70 tahun.

Bagaimana dengan Magetan sendiri. Berapa lama tunggunya? Untuk Kabupaten Magetan lama tunggu calon haji kalau mendaftar sekarang menurut informasi dari Kantor Agama Magetan adalah 27 tahun. Saya terkejut juga ketika diberitahu begitu lamanya masa tunggu. Bayangkan kalau sekarang mendaftar usia 50 tahun baru akan berangkat haji pada usia 77 tahun. Sebuah usia yang juga sudah tua. Tentu fisik sudah tidak prima lagi dengan usia demikian.

Wajar tentunya ketika saya melepas calon jamaah haji paling tua dari Kabupaten Magetan sungguh sangat terharu sekali. Sambil duduk di kursi roda yang didorong putrinya Ibu Djaja Djuri mendekat ke saya. Tentu saja saya segera bersimpuh di depan beliau sambil mengucapkan selamat jalan semoga menjadi haji mahbrur dan dilancarkan selama di tanah suci dalam menjalankan ibadah haji.

Begitu tingginya rata-rata usia calon jemaah haji. Dan juga tentu begitu lamanya masa tunggu calon jemaah haji. Salah satu sebabnya adalah tidak seimbangnya antara kuota jamaah haji dengan yang mendaftar. Sedangkan kuota Indonesia sendiri sebenarnya yang terbanyak di dunia. Lebih dari 230.000. Namun jumlah kuota yang demikian besar masih kurang sebanding ternyata.

Problem lamanya masa tunggu yang demikian di Indonesia, ternyata tidak hanya dialami dalam kasus calon jamaah haji. Ada juga kegiatan lain yang lama tunggunya jauh lebih lama dari ibadah haji. Tentu pembaca akan penasaran, apalagi itu. Ternyata masa tunggu lebih lama adalah transmigrasi. Betul sekali lagi transmigrasi.

Saya tidak akan membandingkan, subtansinya karena memang berbeda tujuannya. Yang satu untuk melaksanakan ibadah dalam melaksanakan rukun Islam yang ke lima. Juga utamanya melaksakan perjalanan spiritual dan tentunya demi kebahagiaan di akherat kelak. Sedang yang transmigrasi utamanya untuk kebahagian utamanya di dunia. Tentu juga demi tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Yang coba saya sandingkan adalah begitu lamanya masa tunggunya juga.

Sekitar lima bulan yang lalu saya kebetulan memberangkatkan transmigrasi dari Kabupaten Magetan ke Sulawesi Selatan. Ada lima keluarga yang bisa diberangkatkan. Sebetulnya banyak yang berminat untuk ikut transmigrasi dari Kabupaten Magetan. Namun kuotanya sangat terbatas. Hal ini wajar, karena rata-rata kepemilikan tanah di Magetan adalah 0,2 Ha. Demikian kecilnya rata-rata kepemilikan tanah pertanian di Magetan. Saya kira tidak hanya Kabupaten Magetan. Rata-rata kabupaten di Jawa kondisinya hampir sama. Oleh sebab itu transmigrasi menjadi salah satu alternatif pilihan untuk memperbaiki hidupnya.

Apalagi transmigrasi sekarang ini berbeda dengan waktu dulu. Utamanya jaman Orde Baru. Kalau dulu transmigran hampir tidak tahu akan ditempatkan dimana. Demikian juga ketika sampai di tujuan, tempat tinggal dan ladang masih perlu kerja keras lagi untuk bisa ditanami. Tentu lebih berat.

Namun saat ini berbeda jauh. Karena sekarang ini program transmigrasi merupakan sharing pembiayaannya antara pusat, provinsi dan pengirim. Daerah tujuan mempersiapkan lahan, sedang pemerintah pusat membiayai persiapkan lahan, rumah, biaya hidup dll. Pemerintah provinsi pengirim, membiayai pengiriman dengan naik pesawat beserta bantuan lainnya. Sedang pemerintah kabupaten membiayai perjalanan dari kabupaten ke provinsi, uang saku dan alat-alat pertanian, bibit dll. Serta membiayai ketika calon transmigrasi melihat lokasi yang akan dijadikan lokasi transmigrasi. Jadi sebelum berangkat para calon transmigran bisa melihat lokasi dulu.

Oleh sebab itu saat ini banyak sekali yang mendaftar menjadi calon transmigrasi. Memang tempatnya relatif baik. Ambil contoh saja transmigran asal Magetan di Kabupaten Bulungan. Lokasi transmigrasinya sangat dekat dengan Kota Bulungan. Hanya seperempat jam naik sepeda motor. Dan baru tiga tahun sudah kelihatan relatif makmur. Karena tanahnya subur dan dapat ditanami berbagai jenis sayur mayur.

Tidak heran untuk Magetan saja yang berminat dan mendaftar untuk menjadi transmigran sudah mencapai lebih dari 200 KK. Sedang rata-rata setiap tahun yang bisa berangkat hanya 5 KK. Bayangkan kalau demikian, lama tunggunya apa tidak 40 tahun. Lebih dari lama tunggu bila naik haji dari provinsi yang paling lama sekalipun yaitu Sulsel. Seperti diketahui lama tunggunya 39 tahun. Sedang untuk Provinsi Jawa Timur transmigrasi peminatnya lebih dari 3000 KK. Sedang kuotanya hanya 160 KK. Sehingga lama tunggunya 19 tahun. Lebih tinggi dari rata-rata lama tunggu naik haji yang lama tunggunya 18 tahun.

Hanya bedanya untuk calon jemaah haji adalah perjalanan spiritual bagi yang mampu. Sedang transmigrasi adalah sebuah perjalanan tanggung jawab keluarga bagi keluarga tidak mampu, untuk mencari kehidupan yang jauh lebih baik. Sungguh keduanya perjalanan yang sangat mulia. Namun keduanya sama lamanya dalam meralisasikannya. Itulah kekontrasan yang nyata di depan mata. Dan itulah sisi kehidupan kita. Sungguh berwarna. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here