Hujat Lebat Masih Berpotensi Turun

33

MADIUN –  Beberapa pekan terakhir, cuaca di wilayah Kabupaten Madiun terpantau ekstrem. Hujan lebat pun sempat mengguyur. Bahkan mengakibatkan beberapa desa di Kecamatan Madiun banjir. Berdasarkan rilis Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terjadi belokan angin di sekitar pulau Jawa. Sehingga, membawa uap air dan mengakibatkan beberapa wilayah di Pulau Jawa hujan lebat. ‘’Diprakirakan akan terjadi sampai hari ini,’’ kata Plt Kepala BDPD Kabupaten Madiun Supriyanto kemarin (4/5).

Dia menambahkan sejumlah wilayah di Kabupaten Madiun acap jadi langganan banjir. Umumnya akibat luapan sungai. Contohnya Kali Wulu yang meluap Januari lalu. Akibatnya, 80 rumah di Desa Tempursari, Kecamatan Wungu, terendam. Juga banjir di Desa Sendangrejo dan Sumberejo, Kecamtan Madiun, belum lama ini. Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat menengarai sampah biangnya. ‘’Aliran sungai mampet dan meluap,’’ ujarnya.

Banyaknya sampah kayu dan dedaunan serta plastik acap menyumbat aliran sungai. Untuk itu, pihaknya melakukan mitigasi penanggulangan bencana dengan membersihkan sampah di sungai. ‘’Kami kerahkan anggota untuk fokus mengurangi bencana banjir,’’ jelasnya.

Beberapa waktu lalu pihaknya sempat membersihkan Dam Serut di Dusun Pojok, Ngadirejo, Wonoasri. Kawasan tersebut terdampak  banjir akhir Januari lalu. Penyebabnya, sungai tersebut tersumbat rumpun bambu dan sampah hingga airnya meluap. ‘’Sampah-sampah itu dari hutan di kawasan Kecamatan Madiun dan sekitarnnya,’’ ungkapnya.

Banjir tak hanya menggenangi permukiman. Jalan akses alternatif Kecamtan Madiun-Mejayan juga terendam. Sampah  yang menumpuk beberapa bulan itu jadi perhatian pihaknya. Termasuk sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. ‘’Kesadaran masyarakat sangat diperlukan. Jangan buang di sungai. Sungai harus bersih,’’ pintanya.

Dia menyebut wilayah tersebut rawan banjir. Wilayah lainnya Desa Tempursari, Mojorayung, Munggut, Kecamatan Wungu; Kelurahan Nglames, Kecamatan Madiun;  Desa Sogo dan Kelurahan/Kecamatan Balerejo; Desa Tulung, Kecamatan Saradan, dan Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng. ‘’Sudah kami pasang early warning system (EWS), agar debit air terpantau. Sehingga warga bisa segera mengungsi jika kondisi memburuk,’’ bebernya.

Setidaknya ada empat titik EWS dipasang. Yakni di Desa Glonggong Kecamatan Balerejo; Desa Termpursari, Kecamatan Wungu; Desa Sumberejo, Kecamatan Madiun, dan Desa Palur, Kecamatan Kebonsari. Dia memastikan EWS dalam kondisi baik sehingga berfungsi maksimal. ‘’Selalu kami cek,’’ katanya seraya menambahkan EWS dipasang sejak 2014 lalu. (fat/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here