Hujan Deras, Puluhan Rumah Tergenang

373

MADIUN – Kota Karismatik belum sepenuhnya terbebas dari banjir dan genangan. Nyaris setiap tahun masalah itu ada. Keluhan dari warga muncul. Sebab, sudah dianggap tradisi.

Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, banjir terparah Sabtu sore (22/2) terjadi di kawasan Jalan Pakel dan Cempedak. Sedangkan, genangan muncul di banyak lokasi. Baik di jalan maupun masuk permukiman warga. Seperti di kawasan Jalan Condromanis, Perumahan Manisrejo.  ’’Saya berharap pemkot mulai tanggap dengan tradisi banjir ini. Butuh pengerukan karena sampah makin banyak,’’ kata Mariono, salah seorang warga Jalan Pakel, RT 6 RW 2, Kelurahan/Kecamatan Taman.

Pengamatan Radar Madiun di lokasi, ada 3 rumah warga di kawasan Jalan Pakel yang memanfaatkan plengsengan sungai. Sedangkan di Jalan Cempedak juga ada tiga rumah berada di bantaran sungai. Ada puluhan rumah warga yang terendam. Ketinggian air mencapai 60 sampai 70 sentimeter.

Mariono menjelaskan, sudah ada pegawai dari DPU Tata Ruang Kota Madiun datang melakukan survei dan investigasi. Namun, menemui jalan buntu. ’’Dulu dari pemkot (DPUTR, Red) sempat melakukan investigasi dan akan merenovasi plengsengan sungai, tapi ada warga yang menolak karena ada beberapa rumah warga yang memanfaatkan plengsengan bantaran sungai,” jelasnya.

Hal sama dialami seorang warga di lingkungan RT 8 yang enggan menyebutkan namanya. Dia mengaku daerahnya hampir tiap tahun menjadi langganan banjir. Sudah beberapa kali warga melaporkan ke pihak kelurahan setiap kali terjadi banjir, namun hingga berita ini ditulis belum ada pihak kelurahan yang datang di lokasi kejadian. ’’Sudah sampai bosan saya melaporkan ke pihak kelurahan setiap ada kejadian ini (banjir, Red), tapi belum ada tanggapan terkait solusinya,” sesalnya.

Ribut Cahyono, ketua RT 6 RW 2, Kelurahan/Kecamatan Taman, menjelaskan bahwa pihaknya sudah berupaya melaporkan masalah banjir tersebut. Namun, sampai sekarang belum mendapatkan jawaban. ’’Sudah sekitar 4 tahun ini saya lapor peristiwa ini (banjir, Red), tapi tak ada tanggapan dari pemerintah, mulai kelurahan, dinas DPUTR, maupun BPBD,” keluhnya.

Berdasarkan pantauan koran ini, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun terjun  ke lokasi di Kelurahan Taman sekitar pukul 19.30. Secara terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Madiun Agus Hariono mengatakan pihaknya terus berupaya mencari solusi atas permasalahan banjir di Kota Karismatik. Kendati demikian, pemkot tidak menutup mata. BPBD Kota Madiun akan terus berupaya melakukan pencegahan bencana dengan melakukan mitigasi di titik lokasi banjir terparah. ’’Kami juga selalu melakukan pencegahan dan pemetaan wilayah terdampak banjir, nantinya akan selalu koordinasi dengan pihak terkait untuk segera mencarikan solusi atas permasalahan ini,” tuturnya.

Sementara, pohon setinggi tujuh meter menimpa ruangan fotokopi milik SMKN 3 Madiun. Kejadian tersebut diketahui oleh Ibnu Suwarto, penjaga fotokopi, sekitar pukul 17.00. Saat itu Ibnu sedang berada di pos satpam. ’’Ada suara retak, tiba-tiba brakkk, sudah nimpa gedung,’’ katanya.

Ibnu sempat khawatir pohon tersebut menembus tembok. Sebab, di dalam ruangan terdapat dua mesin fotokopi. Harga setiap mesinnya kisaran Rp 30 juta. ’’Kalau menimpa  dua-duanya bisa rugi 60 juta,’’ ujarnya.

Ibnu menduga kejadian itu terjadi lantaran sejak sore hujan deras mengguyur Kota Madiun. Beruntung tidak ada korban jiwa. Pada saat kejadian, areal trotoar juga steril dari siswa yang biasa lalu lalang menanti jemputan. ‘’Karena hujan deras, makanya sepi,’’ tuturnya.

Tumbangnya pohon tersebut menambah daftar panjang pohon tumbang di Madiun. Selama Januari sampai kemarin (22/2), sebanyak 21 pohon tumbang di Kota Karismatik. Sementara dinas perumahan dan kawasan permukiman (disperkim) mengklaim telah melakukan tindakan survei sebagai upaya pencegahan. ’’Sejak awal musim penghujan sudah ada 23 pohon yang kami pangkas,’’ kata Kabid Pertamanan Permakaman dan Penerangan Jalan Umum (PTP) Disperkim Kota Madiun A’Ang Marhaendra Budiono.

Ke-23 pohon tersebut termasuk kategori rawan. Dia menyebut kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi kendala disperkim. Ditambah kurangnya mobil crane yang biasa dimanfaatkan untuk memangkas pohon lapuk.  ‘’Disperkim hanya punya satu. Nanti akan ada tambahan satu,’’ jelasnya. (mg2/mgd/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here