Hujan 20 Menit, Borobudur Banjir

144

MADIUN – Hujan deras yang mengguyur Kota Madiun kemarin (21/3) telah  menggenangi Jalan Borobudur hingga menutup akses jalan menuju kawasan tersebut. Padahal, hujan deras hanya berlangsung selama 20 menit. Namun, air menggenangi hingga selutut orang dewasa. ‘’Sudah langganan, kami sudah waspada dan antisipasi itu,’’ kata Agus Sugeng Purwanto, ketua RT 1 RW 1, saat ditemui Jawa Pos Radar Madiun.

Pembangunan selokan tahun 2016 silam dianggap biang kerok. Harapan warga setempat, setelah proyek pembangunan tersebut selesai dibuat, masalah  banjir ini akan selesai. Namun, yang terjadi ketika hujan deras, air tetap menggenangi jalanan. Dan, masuk ke dalam empat rumah warga di lingkungan RW 1. ’’Sebenarnya pembangunan sudah bagus, tapi pintu keluar kecil seakan nekek. Bedanya setelah perbaikan selokan ini air lebih cepat surut,’’ ujarnya.

Bukan hanya itu, masalah selokan di gang satu yang berada dekat dengan jembatan juga dianggap perlu perbaikan. Dasar selokan tersebut perlu diperdalam 50 sentimeter lagi untuk menampung debit air yang cukup deras ketika hujan. ’’Kurang dalam, 50 sentimeter cukup,’’ sebutnya.

Agus mengatakan, pembangunan selokan tersebut tidak seperti yang diharapkan warga. Jadi, pintu masuk air area jembatan lebarnya empat meter. Namun, di sisi jembatan lain yang menghubungkan selokan tersebut lebarnya hanya sekitar dua meter. ’’Harusnya bisa  dibuatkan yang lebih lebar,’’ ucapnya.

Ada empat rumah yang rawan tergenang air hingga ke dalam rumah. Bahkan, Ramlan, salah seorang warga, terpaksa membeli mesin diesel untuk membantu menyedot air yang masuk ke dalam rumahnya. ’’Sudah satu tahunan ini saya memiliki mesin diesel ini,’’ sebutnya.

Untuk mengantisipasi banjir, setiap hujan deras Agus mengaku standby di pompa air yang jaraknya sekitar  500 meter dari tempat tinggalnya. Seperti yang dilakukannya kemarin sore (20/3). Agus melakukan pengecekan pintu air di area Kali Madiun. Namun, lantaran air tak kunjung surut, dia merasa perlu memanfaatkan pompa air. Akhirnya, Agus menghubungi kelurahan setempat untuk koordinasi dengan dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR). ’’Alurnya ini yang belum efisien, karena pompa bukan miliknya  Pemkot Madiun, tapi bengawan. Saya harus menghubungi  lurah, lalu lurah kontak ke DPUTR atau pihak bengawannya,’’ tandasnya.

Di lain pihak, Kepala Bidang Cipta Karya Budi Agung Wicaksono saat dihubungi wartawan koran ini mengatakan akan segera berkoordinasi dengan  kepala bidang lain yang berkaitan langsung dengan proyek pembanguan tersebut.  Utamanya, Kepala Bidang Pengelolaan SDA dan Drainase Dodo Wikayunoso. (dil/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here